Tampilkan postingan dengan label pajajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pajajaran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Oktober 2019

MENCARI LETAK KERATON PAJAJARAN

By Deden Heryana

Menurut beberapa naskah Jawa Barat dan juga dari hasil penelitian Belanda, bahwa lokasi keraton Pajajaran merujuk pada Lawang Gintung sekitar prasasti batu tulis Bogor.

Pasca keraton Pajajaran dibakar, dibumihanguskan tanpa sisa oleh pasukan Banten pada tahun 1579 M, bekas-bekasnya mungkin masih bisa dikenali. Kemudian bekas lokasi keraton Pajajaran itu seiring waktu berubah menjadi hutan yang sangat lebat.

Pada tahun 1699 M Gunung Salak meletus, dengan letusan yang sangat dahsyat (sebagian ahli vulkanologi menyebutnya longsoran Gunung Salak, bukan letusan). Kemudian pada tahun 1702 M, Gubernur Jendral Belanda di Batavia memerintahkan Riebeck untuk meninjau lokasi mana saja yang terkena dampak letusan dahsyat Gunung Salak. Riebeck melihat hutan lebat dibekas lokasi keraton pajajaran itu telah berubah menjadi tanah lapang yang luas dan kosong.

Hutan bekas lokasi keraton pajajaran itu telah tertimbun lumpur dan lahar Gunung Salak yang telah mengeras.

Pakuan Pajajaran atau Pakuan
(Pakwan)  atau Pajajaran adalah pusat pemerintahan Kerajaan Sunda, sebuah kerajaan yang selama beberapa abad (abad ke-7 hingga abad ke-16) pernah berdiri di wilayah barat pulau Jawa. Lokasi Pakuan Pajajaran berada di wilayah Bogor, Jawa Barat sekarang.

Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya sehingga Kerajaan Sunda sering disebut sebagai Kerajaan Pajajaraan.

Lokasi Pajajaran pada abad ke 15 dan abad ke-16 bisa dilihat pada peta Portuguese Colonial Dominions in India and the Malay Archipelago – 1498-1580 di atas.

Pakuan Pajajaran hancur, rata dengan tanah, pada tahun 1579 akibat serangan pecahan kerajaan Sunda, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Kerajaan Sunda ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana atau tempat penobatan raja-raja Sunda), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak dimungkinkan lagi penobatan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja, raja Kerajaan Sunda. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Dalam kropak (tulisan pada lontar atau daun nipah) yang diberi nomor 406 di Mueseum Pusat terdapat petunjuk yang mengarah kepada lokasi Pakuan. Kropak 406 sebagian telah diterbitkan khusus dengan nama carita parahyangan. Dalam bagian yang belum diterbitkan (biasa disebut fragmen K 406) terdapat keterangan mengenai kisah pendirian keraton Sri Bima, Punta, Narayana Madura Suradipati:
 "Di inya urut kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebolta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah. Disiar ka hulu Ci Pakancilan. Katimu Bagawat Sunda Mayajati. Ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa.
Artinya :
Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kadatuan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Setelah selesai [dibangun] lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. Dicari ke hulu Ci Pakancilan. Ditemukanlah Bagawat Sunda Majayati. Oleh Bujangga Sedamanah dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa."
.
Dari sumber kuno itu dapat diketahui bahwa letak keraton tidak akan terlalu jauh dari "hulu Ci Pakancilan". Hulu sungai ini terletak di dekat lokasi kampung Lawanggintung yang sekarang, sebab ke bagian hulu sungai ini disebut Ciawi.

Dari naskah itu pula kita mengetahui bahwa sejak zaman Pajajaran sungai itu sudah bernama Ci Pakancilan. Hanyalah juru pantun kemudian menerjemahkannya menjadi Ci Peucang. Dalam bahasa Sunda Kuna dan Jawa Kuna kata "kancil" memang berarti "peucang".


Referensi

  1. Argadipraja, R. Duke. (1992). Babad Panjalu Galur Raja-raja Tatar Sunda. Bandung: Mekar Rahayu.
  2. Ayatrohaedi. (2005). Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" dari Cirebon. Jakarta: Pustaka Jaya.
  3. Ekadjati, Edi S. (2005). Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Jakarta: Pustaka Jaya.
  4. Hidayat, Yayat. Mengenal Warisan Kerajaan Panjalu. Artikel Majalah Misteri Edisi 20 Peb - 04 Mar 2010.
  5. Iskandar, Yoseph (1997). Sejarah Jawa Barat: Yuganing Rajakawasa. Bandung: Geger Sunten.
  6. Sukardja, H.Djadja. (2002). Situs Karangkamulyan. Ciamis: H. Djadja Sukardja S.
  7. Pleyte, Cornelis Marinus. 1911-1913, "Dutch, Book, Illustrated edition: De inlandsche nijverheid in West-Java : als sociaal-ethnologisch verschijnsel / door C. M. Pleyte." Batavia: Javasche boekhandel &​ drukkerij.
  8. Hystoryana.blogspot.com

MUSNAHNYA IBUKOTA PAJAJARAN KARENA LETUSAN GUNUNG SALAK?

By Deden Heryana

Sebuah catatan dari tahun 1702 dari Ekspedisi Belanda Raam & Coops, menceritakan keadaan yang diakibatkannya. Pada catatan itu tertulis, ”Dataran tinggi antara Batavia dengan Cisadane di belakang bekas keraton raja-raja Jakarta (maksudnya Pajajaran) yang disebut Pakuan (Kota Bogor sekarang) yang asalnya berupa hutan besar, setelah terjadi gempa bumi berubah menjadi lapangan luas dan terbuka, tanpa pohon-pohonan sama sekali.

Permukaan tanah tertutup dengan tanah liat merah yang halus seperti biasa digunakan tukang tembok. Di beberapa tempat telah mengeras sehingga dapat menahan beban langkah yang berjalan di atasnya, tetapi pada tempat tempat lain orang dapat terbenam sedalam satu kaki.

Di tempat bekas keraton yang disebut Pakuan yang terletak di antara Batavia dengan Cisadane belum pernah terjadi bencana lain yang menyebabkan tanah tersobek dan pecah terbelah-belah menjadi retakan-retakan besar yang lebih dari satu kaki lebarnya.”

Gunung Salak tercatat sudah beberapa kali erupsi, tetapi erupsi terbesar adalah erupsi yang terjadi pada 1699 itu. Catatan itu diperkuat beberapa catatan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) tentang bekas Kerajaan Pakuan Pajajaran tersebut.

Laporan tertulis pertama mengenai lokasi Pakuan diperoleh dari catatan perjalan ekspedisi pasukan VOC.  Setelah mencapai persetujuan dengan Cirebon (1681), Kumpeni Belanda menandatangani persetujuan dengan Banten (1684). Dalam persetujuan itu ditetapkan Cisadane menjadi batas kedua belah pihak.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai lokasi “bekas istana” Kerajaan Pajajaran, VOC mengirimkan tiga tim ekspedisi yang masing-masing dipimpin oleh
  1. Scipio (1687)
  2. Adolf Winkler (1690)
  3. Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709)
  4. Laporan Scipio
Dua catatan penting dari ekspedisi Scipio adalah:
 Catatan perjalanan antara Parung Angsana (Tanah Baru) menuju Cipaku dengan melalui Tajur, kira-kira lokasi Pabrik “Unitex” sekarang. Catatannya adalah sbb.: “Jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku adalah lahan yang bersih dan di sana banyak sekali pohon buah-buahan, tampaknya pernah dihuni”.
Lukisan jalan setelah ia melintasi Ciliwung. Ia mencatat “melewati dua buah jalan dengan pohon buah-buahan yang berderet lurus dan tiga buah runtuhan parit”. Dari anggota pasukannya, Scipio memperoleh penerangan bahwa semua itu peninggalan dari Raja Pajajaran.

Dari perjalanannya disimpulkan bahwa jejak Pajajaran yang masih bisa memberikan “kesan wajah” kerajaan hanyalah “Situs Batutulis”.

Penemuan Scipio segera dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di Belanda. Dalam laporan yang ditulis tanggal 23 Desember 1687, ia memberitakan bahwa menurut kepercayaan penduduk, “dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort” (bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja “Jawa” Pajajaran sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau).

Rupanya laporan penduduk Parung Angsana ada hubungannya dengan seorang anggota ekspedisi yang diterkam harimau di dekat Cisadane pada malam 28 Agustus 1687. Diperkirakan Situs Batutulis pernah menjadi sarang harimau dan ini telah menumbuhkan khayalan adanya hubungan antara Pajajaran yang sirna dengan keberadaan harimau.


Kontroversi Erupsi Gunung Salak 1699

Gunung Salak disebut telah meletus pada awal tahun 1699, tepatnya tengah malam menjelang tanggal 5 Januari. Banyak referensi yang mengutip keyakinan ini, termasuk yang tercantum dalam Data Dasar Gunung Api Indonesia (Edisi Kedua) yang disusun oleh Badan Geologi pada 2011.

Dikutip dari tulisan T. Bachtiar bertajuk “Gunung Salak Tidak Meletus Tahun 1699” yang dimuat dalam Pikiran Rakyat (2018), data dari Badan Geologi itu menyebutkan: “Tahun 1668-1699 terjadi erupsi samping dan erupsi normal, erosi yang merusak lingkungan di Gunung Salak II. Erupsi berupa letusan magmatik.”

Salah satu tulisan yang terhimpun dalam jurnal Duta Rimba (1999) terbitan Perum Perhutani juga menyebut Gunung Salak erupsi pada 1699 (hlm. 50). Letusan tersebut menghasilkan lahar dingin yang mendangkalkan sejumlah sungai di wilayah Jawa Barat yang mengalir sampai ke Batavia (Jakarta), termasuk Sungai Ciliwung.

Buku Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa (2010) yang ditulis Restu Gunawan mengungkapkan, aliran lahar Gunung Salak—juga dari Gunung Gede dan Pangrango—menyebabkan pengendapan lumpur sungai yang nantinya membentuk Teluk Jakarta. Setelah Gunung Salak meletus pada 1699, lanjutnya, garis batas pantai bergeser 75 meter ke arah laut tiap tahun.

Tulisan Gunawan selaras dengan penjelasan Abdoel Raoef Soehoed dalam buku Banjir Ibukota: Tinjauan Historis dan Pandangan ke Depan (2002). Soehoed bahkan menuliskan bahwa letusan Gunung Salak tahun 1699 membuat Kota Batavia terkena hujan abu, juga dilanda arus lumpur yang besar (hlm. 27).

Referensi yang lebih tua, The Malay Archipelago (1869) karya Alfred Russel Wallace, tidak menyebut secara jelas apakah Gunung Salak memang mengalami erupsi pada 1699 itu. Wallace hanya menuliskan telah terjadi “letusan lumpur besar” dan meyakini setelah itu Gunung Salak sudah tidak aktif lagi (hlm. 174).

Ternyata Bukan Meletus?

Apakah Gunung Salak benar-benar telah meletus pada 1699 itu? Saleh Danasasmita dalam buku Sejarah Bogor (1983) menuliskan bahwa Gunung Salak meletus dengan iringan gempa bumi yang sangat kuat (hlm. 84).

Namun, catatan resmi pemerintah kolonial Hindia Belanda tidak menyebut Gunung Salak mengalami erupsi. Laporan J.A. van der Chijs dalam Nederlandsch-Indisch Plakaatboek 1602-1811 (1886) menuliskan bahwa yang terjadi adalah gempa bumi, bukan letusan gunung.

Van der Chijs mencatat: “Dataran tinggi antara Batavia dengan Cisadane, di belakang bekas keraton raja-raja yang disebut Pakuan, yang semula berupa hutan besar, setelah terjadi gempa bumi, berubah menjadi lapangan luas dan terbuka, sama sekali tidak ada pepohonan.”

Lereng Gunung Salak memang pernah menjadi lokasi pembangunan istana Kerajaan Pakuan atau Pajajaran. Mitosnya, Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi ( 1482-1521) moksa di area gunung ini untuk menghindari kejaran pasukan yang dipimpin putranya, Raden Kian Santang.

Gunung Salak juga menjadi asal-muasal peradaban orang Sunda. Di lereng gunung ini, pada abad ke-2 Masehi pernah berdiri Kerajaan Salakanagara yang diyakini sebagai kerajaan Sunda tertua di Nusantara (Halwany Michrob, dkk., Catatan Masa Lalu Banten, 1993:33). Nama Gunung Salak disebut-sebut berasal dari kata Salakanagara.

Untuk menyelidiki apa yang terjadi di Gunung Salak pada 1699, otoritas Belanda di Batavia mengirimkan tim khusus yang dipimpin Ram dan Coops. Ekspedisi ini, sebut Frederik de Haan dalam Priangan, de Preanger-regentschappen Onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811 (1911) dilakukan pada 1701.

Ram dan Coops melaporkan, tidak terdapat laporan serius tentang nasib penduduk di sepanjang Sungai Ciliwung. Jika benar Gunung Salak meletus dan mengalirkan lahar dingin dalam jumlah besar, tentunya akan mengakibatkan kerusakan parah terhadap desa-desa di sekitar sungai itu, juga berpotensi menelan korban jiwa.

Apabila memang terjadi terjangan lahar dingin, tulis Danasasmita (1983), diperkirakan banjir bebatuan itu ambles ke dalam tanah yang terbelah di antara Sungai Ciliwung dan Cisadane, yang kemudian menyebabkan Batavia dilanda banjir.

T. Bachtiar dalam artikel “Guguran Puing dari Gunung Salak” (Pikiran Rakyat, 2018) cenderung meyakini bahwa apa yang terjadi pada 1699 itu bukan letusan, melainkan debris avalanche atau guguran puing. Puing-puing di lereng gunung longsor dan berguguran akibat diguncang gempa bumi kemudian membentuk lembah besar dan dalam, sebagaimana laporan van der Chijs.

Riset Christopher J. Harpel, peneliti dari Earth Observatory of Singapore, yang dilakukan tahun 2015, mengakui bahwa Gunung Salak memang pernah beberapa kali meletus, tapi bukan pada 1699. Erupsi terjadi pada 1688, 1761, 1780, 1902, 1903, 1919, 1923, 1929, 1935, 1936, dan terakhir 1938.

Menurut Harpel, kandungan batu apung dalam deposit aliran guguran puing di Gunung Salak tahun 1699 terlalu sedikit. Ini menyiratkan, dikutip dari Bachtiar, bahwa tidak pernah terjadi letusan yang berbarengan dengan guguran puing.

Jauh sebelumnya, Verbeek dan Fennema dalam laporan bertajuk “De Salak” (1896) dengan lebih tegas menyatakan: “Letusan Gunung Salak pada tahun 1699 tidak terjadi sehingga harus dicoret dari daftar gejala letusan gunung api.”

Lantas, mana yang benar? Apakah Gunung Salak benar-benar erupsi atau tidak pada 1699 itu? Hal ini masih menjadi perdebatan, bahkan terus diteliti meskipun sudah berlalu beratus-ratus tahun silam.

Terkadang, bisa saja terjadi gejala atau peristiwa mirip letusan seperti pada 1699 atau 2018 lalu. Yang jelas, kewaspadaan dan pemantauan harus selalu dilakukan karena sampai saat ini Gunung Salak masih tercatat sebagai gunung api aktif meskipun terakhir diketahui erupsi sudah cukup lama.


Referensi

  1. Danasasmita, Saleh. 1983. Sejarah Bogor. Bogor: Pemerintah Daerah Kotamadya DT II Bogor
  2. Soehoed, Abdoel Raoef. 2002. Banjir Ibukota: Tinjauan Historis dan Pandangan ke Depan.
  3. Wallace, Alfred Russel. 1869. The Malay Archipelago.
  4. "Kontroversi Letusan Gunung Salak Tahun 1699" tirto,id oleh: Iswara N Raditya Editor: Windu Jusuf. Diakses 21 September 2019.
  5. "Gunung Salak Tidak Meletus Tahun 1699" pikiran-rakyat.com oleh: T Bachtiar, 27 Jan 2018. Diakses 21 September 2019.
  6. Hystoriana.blogspot.com
  7. "Gunung Salak - Data Dasar Gunung Api Indonesia" 2 Januari 2012, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI - esdm.go.id Diakses 21 September 2019.

Selasa, 29 Oktober 2019

NASKAH SANGHYANG SASANA MAHA GURU

By Deden Heryana

1 – Pañcawédani1
Ndeh2 Sanghya(ng) Sasana Maha Guru ngaran sanghyang3 pustaka. Sasana4 ma ngaranya urut nu ti heula. Maha5 ma nu leuwih ti leuwih, tina dunya. Guru ma [ma] ngara(n)na puhun6 nikang rat7 kabéh.
Nya ieu pustaka suci Sanghyang Sasana Maha Guru téh. Sasana hartina titinggal ti nu ti heula. Maha hartina nu leuwih ti nu leuwih, ti (saamparan) dunia. Guru hartina sumber pikeun sakumna manusa.
1pancawedani: asal tina: panca=lima; we=cai; dani=sapu nyere. Pancawedani : lima jalan pikeun manusa enggoning mersihkeun jiwana tina rupa-rupa pangaruh goréng, nyaéta bwah, paksa, huning, temen, jeung daék.
2ndeh: ‘Tah !’ (kecap panyeluk), nihan: ‘ieu’ (kecap panuduh)
3sanghyang: suci (ditempatkeun saméméh kecap barang pikeun nuduhkeun yén éta barang téh suci).
4sasana: ajaran, doktrin, sarana.
5maha: badag, gedé, agung.
6puhun: awal, wiwitan, sumber, tangkal. Di baduy pupuhu kaagamaan disebut puun. ngandung ogé harti séjén emang’ (adi indung atawa bapa).
7rat: manusa, jalma.

Hana upadyanta8 kadya(ng)ga9 ning manik10 kanarga,11 lawan manik sawéstra.12 Yéka puhuning suka duka, hala13 hayu.14 Byaktanya15 nihan: Bwah16 paksa,17 huning18t(e)men,19 daék mwa kapalang.
Aya jalan tindakan nu kudu dituturkeun ku anjeun, nu dipapandékeun jeung perhiasan mutiara, ogé mutiara nu moncorong. Nya éta wiwitan tina kaayaan suka jeung dukana, cilaka jeung salametna. Ieu écésna mah: hasil maksud, mikaweruh enya-enya, daék hanteu kapalang.
8upadyanta = asalna tina: upadéya –nta ‘jalan tindakan nu kudu dituturkeun –ku anjeun’.
9kadyangga = kadi + anggan: minangka, lir ibarat.
10manik: mutiara.
11kanarga = tina: ‘kana’ atawa ‘kangkana’: perhiasan dina leungeun upamana: gelang, cingcin. jeung ‘arga’: ajen, harga atawa gunung. Manik kanarga = perhiasan nu hargaan, perhiasan nu ajénan.
12sawéstra = tina: ‘sawé’= ngalayah. Manik sawéstra = manik nu ngalayah.
13hala: cilaka, mamala.
14hayu: salamet.
15byakta: écés, jéntré.
16bwah: hasil.
17paksa: tujuan, maksud, kahayang nu kuat.
18huning: mikanyaho, mikaweruh.
19temen: enyaan, enya-enya.

Kalinganya:20 bwah ma sanghya(ng) pratiwi,21 basana dipahayu, diturunkeu(n), ditaék(k)eun, dicamahan,22 dicampuran, hanteu susut23 hanteu pu(n)dung hanteu geurah24hanteu bijah,25 keu[deu]deung deung langgeng ngawakan na kapratiwian. Iya kéh! Éta na awak(eu)neun sang séwaka darma.
Maksudna: bwah (hasil) téh bumi nu suci, nalika disalametkeun, diturunkeun, ditaékkeun, dikotoran, dicampuran, hanteu tisusut hanteu pundung hanteu motah hanteu ingkah, sakeudeung jeung salawasna ngamalkeun kapratiwian (aturan kaduniawian). Enya kitu! Éta nu kudu diamalkeun ku nu ngabdi kana darma (hukum).
20kalinganya = asal tina: ka + ling +-an + -iya. Ling, hartina ‘ucap’ kalinganya = maksud tina ucapan.
21pratiwi: bumi, sanghyang pratiwi ‘bumi nu suci’.
22dicamahan = dijieun jadi camah = dijieun jadi rujit = ‘dirurujit’.
23susut: labuh. Saperti dina kalimah: tisusut.
24geurah: gumbira, suka bungah. Dina konteks kalimah di luhur, jigana nuduhkeun harti ‘kaayaan motah’.
25bijah: motah, mijah.

Paksa ma cai, alaeunana ma, basana biji[h]l ti huluna. Téka26 bwar27 hérang tiis rasana. Geus ma28 hanteu kawurungan,29 teka30 ri31 sagara. Sa/4v/kitu na turutk(eu)neun sang séwaka darma.32
Paksa (maksud) téh nyaéta cai, alaeunana mah nalika bijil ti huluna. Karasa ngamalir hérang tur tiis. Jeungna hanteu kahalangan nepi ka sagara. Sakitu nu kudu diturut ku nu ngabdi kana darma (hukum).
26téka = asal tina: ta + ika = nya éta.
27bwar: bor. Dipikawanoh kecap balobor. Jigana parobahan tina bor + ‘rajékan dwi purwa’ bobor + infiks -al- = balobor, mangrupa kecap panganteur pagawéan pikeun nu ngamalir, upamana: cai, getih, késang, jeung saterusna.
28geus ma: anggeus mah, jeungna.
29kawurungan = asal tina: ka-+wurung+-an = hartina sarua jeung: ka+batal+an = kahalangan.
30teka: nepi ka. Ulah pahili jeung téka (tina: ta + ika) ‘nyaéta’.
31ri: di, ka (kecap pangantét).
32séwaka darma = sebutan pikeun nu ngabdi kana tugas (hukum)na di alam dunia.

Huning ma ngaran angin, alaeunana ma, basana m(e)tu ti barat, téka hir33 tiis, leuleus datangna ka awak urang. Geus ma hanteu kawurunganan, basana bijil medeng34 di bwana. Sakitu na turutk(eu)neun, ku sang séwaka darma.
Huning (pangaweruh) mah nyaéta angin, alaeunana mah, basa bijil ti kulon, karasa ngahiliwir tiis, leuleus nebak awak urang. Jeungna hanteu kahalangan, nalika bijil di alam dunia. Sakitu nu kudu diturut ku nu ngabdi kana darma.
33hir: hiliwir. Kecap panganteur pikeun angin.
34medeng = asal tina: sedeng+n- anu hartina ‘meujeuhna’.

T(e)men ta ma ngaraning ka apuy35 deungeun ga(ng)gaman.36 Ti iña éta dipipakeunnakeun37 ku nu réya,38 ku geui(ng)39 na temen.
Temen (enya-enya) téh nyaéta seuneu jeung ganggaman. Nya ti dinya nu matak dimangpaatkeun ku jalma réa, ku nu pikiranna soson-soson.
35apuy: seuneu. Kalimah ‘parupuyan’ jigana mangrupa obahan tina apuy+pa-an -> paapuyan -> parupuyan.
36ganggaman: sanjata, pakarang.
37dipipakeunakeun = asal tina: dipi –+ pikeun+na+keun = ‘di(pigawé) pikeun’.
38nu réya: jalma réa.
39geuing: kasadaran, pikiran.

Daék éka ma ngaranya, Sanghyang Aditya,40 basana m(e)tu ti bwana wétan, hanteu kawurunganan, ku méga ku hujan, (ku) kukus41 ku sanghub,42 teka ri(ng) kulwan, ku geui(ng) éka laksana.
Daék (kahayang) mah nyaéta panon poé, nalika medal ti buana béh wétan, hanteu kahalangan, ku méga ku hujan, ku haseup jeung halimun, nepi ka (surup) di béh kulon, ku sabab kasadaran kana hiji lampah.
40sanghyang aditya: panon poé.
41kukus: haseup, kabut.
42sanghub: halimun.

Kitu kéh na turutk(eu)neun, ku sang séwaka darma. Mulah mwa43 iyatna-yatna44 di Sanghya(ng) Pasangkanan.45 Nihan sina(ng)guh pañcawédani46 ngaranya. Panca /5v/ ma watek lima, wé47 ma cai, dani48 ma sapu ñéré.
Sakitu nu kudu diturut, ku nu ngabdi kana darma. Mangka jeung iyatna kana Sanghyang Pasangkanan (Ajaran Awal). Nya ieu nu disebut pañcawédani téh. Panca hartina watek lima, wé hartina cai, dani hartina sapu nyéré.
43mulah mwa: kudu, ulah hanteu.
44iyatna-yatna: merhatikeun enya-enya.
45sanghyang pasangkanan: ajaran wiwitan, ajaran awal.
46pañcawédani: lima jalan pikeun mersihkeun jiwa.
47wé: cai.
48dani: jadi caang, lénglang, béngras. Dina téks di luhur mah dipapandékeun jeung sapu nyéré, nu sapopoé dipaké alat pikeun mersihkeun runtah.

2 – Siksa Kandang; Siksa Kurung; Siksa Dapur
Ini siksa ka(n)dang49 ngaranya, siksa kurung,50 siksa dapur.51
Nya ieu nu disebut siksa kandang, siksa kurung jeung siksa dapur téh.
49siksa kandang: ngatur étika antara manusa jeung papadana. Kumaha hubungan jeung tatangga, deungeun-deungeun, atawa nalika urang indit-inditan diatur dina siksa kandang.
50siksa kurung: nyaéta ngatur saréngkak saparipolah antara manusa jeung ahli agama.
51siksa dapur: nyaéta hakékat tina sagala ajaran-ajaran saméméhna. Mangrupa aci-aciningna manusa nu geus bisa meuseuh kahirupan profanna, nujul kana kahirupana nu transenden, ku baktina nu satia ka guruna, sang pandita.

Kalinganya: na siksa kandang ma ngara(n)na, sakuliling sarira. Jeujeueung ma na halwaan, halwaan si panghawanan, na ni(ng) panglu(ng)guhan, iña éta na ingetkeuneun deung urang. Maka iyatna-yatna! Sugan urang asup tepas, asup dalem, hanteu ngeunah lamun hanteu dayeuhanana. Ya siksa kandang ngara(n)na.
Maksudna, siksa kandang téh, aya disakuliling diri anjeun. Ningali rupa-rupa gogoda, gogoda dina perjalanan, atawa dina panglungguhan, nyaéta nu kudu diinget ku urang. Mangka perhatikeun sing iyatna! Sugan urang asup ka buruan, ka imah, moal ngeunah lamun urang lain nu dumuk di dinya. Éta nu disebut siksa kandang téh.

Masa urang paparan, hanteu ngeunah palar cidera ku pangeusi huma sakalih, ku pangeusi kebwan sakalih. Mangka nguni hiris meubeut ceuli, lamun kacang meubeut tarang, ngala tu(n)da ngala ka(n)tenan, nurunkeun sadapan sakalih. Hanteu ngeunah ngising di pi(ng)gir jalan, sugan kaa(m)beu ku nu bangah, bisi kasumpah kapadakeun, ambu, /5r/ ayah, pangguruan. Mulah mwa maké cangcut pangadua, sugan urang pajeueung deung gusti deung mantri, mulah mwa ngidal, pangadwakwakwa(ng)keun. Ya siksa k(an)dang ngaranya.
Mangsa urang indit-inditan, teu hadé boga niat deleka, ka batur nu boga ‘huma’, atawa batur nu boga kebon. Ku kituna, hiris meubeut ceuli lamun kacang meubeut tarang. Nyokot teuteundeunan atawa nu geus puguh nu bogana, nurunkeun sadapan batur. Teu hadé urang ngising di sisi jalan, bisi kaambeu ku nu balangah, engkéna bisi disumpahan jeung disalahkeun: ku indung, bapa, jeung paguron. Sawadina urang maké calana jangkep, bisi urang panggih jeung raja jeung mantri, urang kudu aya di kéncaeunana turta dongko. Éta nu disebut siksa kandang téh.

Siksa kurung ma, sakarma deung sang pan(di)ta. A(ng)geus ma hanteu ngeunah ngareuseuh beunang diheueum, ngarumpak sanghya(ng) siksa. Lamun a(ng)geus ñahwa diwuku-wuku dina leukeur-leukeur, dangda-dangdi sipat geuing, pangguratan, pangguritan, pangwaleran, pangwatesan. Satapak Hya(ng) Bra(h)ma Wisnu, basa ngawatesan bwana. Yata siksa kurung ngaranya.
Siksa kurung mah, saréngkak saparipolah jeung para pandita. Jeungna deui hanteu hadé ngaganggu naon nu geus disapukan babarengan, ngarempak sanghyang siksa. Lamun enggeus mikanyaho sagala buku dina gulungan-gulungan (kitab), hukuman tina arah nu geus ditangtukeun, guratna, susunanna, jawabanna, watesanana. (Hartina urang geus)nuturkeun tapak Dewa Brahma jeung Wisnu, nalika ngawatesanan alam dunia. Nyaéta nu disebut siksa kurung téh.

Na siksa dapur ma ngara(n)na, ngadapetkeun puhun, ngahusir tangkal ku geui(ng) na bakti satia, di sang pandita. Ya siksa dapur ngara(n)na. Nihan sinangguh siksa kandang, ngaranya ling maha pandita.
Ari nu disebut siksa dapur mah, ngahontal sumberna, meunangkeun inti ku kasadaran kana bakti jeung satia ka sang pandita. Nya éta nu disebut siksa dapur. Nya ieu nu yang disebut siksa kandang, piwuruk ti Maha Pandita.

3 – Dasawredi52
Niha/6r/ n kayatna-yatna sang séwaka darma, pawuitan sanghya(ng) sastra, mala murtinya nguni, katekan mangké.
Ieu nu kudu diperhatikeun ku nu ngabdi kana darma, asal usul tulisan suci, wangun cedana ti baheula, nepi ka kiwari.
52dasawredi: nyaéta sapuluh wangun tulisan dina rupa-rupa média.

Ndah ta pawuitan sanghya(ng) sastra. Nihan lwirnya: sasurup sanghya(ng) sriwar Aditya, gumenti sanghya(ng) ratri (Nskh: ratsi). Trepti treptwa pagawé wéwa laksana. Tatwa kala Batari Durgi.53
Nya ieu asal usul tulisan suci téh. Ieu sasaruaanana: sasurupna panon poé, digantikeun ku peuting. Ngarasa sugema tur bagja sabab sagala pancén bisa kalaksanakeun. Hakékat waktu (anugerah ti ) Batari Durgi.
53batari Durgi atawa Durga téh déwi satungkebing alam.

A(ng)regu ta jantra Sri Batara Gana,54 sina(m)buratkeun ri(ng) manusa madyapada, matemahan ta ya gebang lawan lwa(n)tar, tipuk diwasa pupus gebang lawan lwa(n)tar. Tinut pinada pada, lwané lawan dawané, tinitisan asta gangga wira tanu.
Hasil tina benduna Sri Batara Gana, nu nyalabarkeun manusa di madyapada. Ngajadikeun gebang jeung lontar, ngajadikeun témbong waktuna pupus, gebang katut lontar. Dituturkeun tur diturutan, rubakna katut panjangna, dititisan asta gangga wira tanu.
54Sri Batara Gana (Ganésa): tina Ganapati (gana= gajah; pati = pamingpin), ku sabab wujud sirahna mangrupa gajah.

Apa ta sinangguh (asta) gangga wira tanu? Asta ngaraning tangan, gangga ngaraning bañu, wira ta ngaraning panurat lawan panuli, tanu ngaraning mangsi.
Naon saenyana asta gangga wira tanu téh? Asta hartina leungeun, gangga hartina cai, wira hartina kalam jeung koas, tanu hartina mangsi.

Tinulis dé sa(ng) pandita, pinaca dé sang apunggung /6v/ tambah uni uningana, winaleran55 dé sang kawi.56
Ditulis ku sang pandita, dibaca ku nu bodo (sangkan) nambahan pangaweruhna, diuger ku sang kawi.
55winaleran: diwatesan, diuger.
56sang kawi: bujangga.

Nguniwéh cinaritakeun ta dasapurwa.57
Saperkara dicaritakeun dasapurwa.
57dasapurwa: 10 awal.

ONG Swaraswati58 Tarajñana Cintamanik! Katuna ma ta na bayu, pamutyan Batara Guru, batara sang sida panta titira lemah, sang sida pandata tita(h) ring langit, Kusika Garga Méstri Purusya Pata(ñ)jala, mwang bayu sabda hdap,59 nguniwéh ikang sang manwan,60apan sang hya(ng) itung ika.
Ong swaraswati Tarajnana sang mutiara pikiran! Kakurangan ayana dina tanaga. Tempat mutiara (ayana di) Batara Guru, batara ti golongan nu sampurna utusan lemah, sang pandita nu sampurna utusan langit: Kusika, Garga, Mestri, Purusya, Patanjala; ogé bayu, sabda, jeung hedap; kitu deui Sang Manon, sabab Anjeunna nu nyieun balitungan.
58Swaraswati (Saraswati) téh déwi pangaweruh jeung kawijaksanaan dina kapercayaan Hindu. Dina kitab-kitab Purana, déwi Saraswati téh saktina (pamajikanna) déwa Brahma. Rupana déwi Saraswati téh: geulis, kulitna beresih, sipatna daréhdéh deuih. Raksukan nu dianggona sarwa bodas ngaplak bari lungguh dina kembang padma (taraté). Pananganna aya opat, masing-masing nyepengan: wina (kacapi), aksamala (tasbéh), damaru (kendang leutik) jeung pustaka (buku/koropak lontar).
59bayu sabda hdap: bayu (napas); sabda (ucap); hdap/hedap (pikiran).
60sang manwan/sang manon: Nu Maha Ningali.

4 – Dasamala
Nihan ta muwah sinangguh dasamala61 ngaranya, nihan silwakanya: “wigatah mala duken, kurwanti kusalah mahat, gawayaken sutem citem, budi hiyeum maguh narakem, Kananga taka ri kita, sami batang marakarma. /siloka 2/
Ieu ogé nu disebut dasamala. Nya ieu silokana: “Indit tina kasangsaraan, nepika jadi jalma nu suci, Milampah niat nu hadé. Budi goréng tempatna di naraka, Anjeun lir ibarat kembang kananga, (jeung) catang sami nu katalangsara. /siloka 2/
61dasamala: 10 céda atawa sapuluh kaayaan kotor dina diri manusa, nyaeta: sukta; baya; tandri; kalédra; laña; ragastri; paladarah; baksya bwajñana; jeung kutila wiwéka.

Yan datang ri kita, mara[g]karma, ngaranya: sukta, baya, tandri, kaléd[r]a, (laña), ragastri, paladarah, bak/12v/sya bwajñana, kutila, wiwéka.
Sabab geus datang ka aranjeun, paripolah jahat, nu disebut: sukta, baya, tandri, kaléda, lanya, ragastri, paladarah, bak/12v/sya bwajñana, kutila, miwédéka.

Ka: sukta62 ngaranya, beuki héés, kalipikeun mitañakeun pirampéseun, deungeun na piutamaeunnana swarangan, kalipian miguna na ngeunah tineung, deung micarék na rampés di nu réya, yata sinangguh sukta ngaranya.
Maksudna, nu disebut sukta téh, beuki héés, mopohokeun pikeun nanyakeun perkara nu mawa kahadéan, ogé dina perkara nu panghadéna pikeun dirina. Poho pikeun milampah hiji perkara kalawan pikiran nu alus, jeung ngomongkeun kahadéan ka jalma réa. Éta nu disebut sukta téh.
62sukta: poho.

Baya63 ngaranya, bwarang mitañakeun manéh, bwarang naña ja ngarasa manéh kwalwat, bwarang micarék na rampés, yata baya ngaranya.
Baya hartina, sieun tatanya ngeunaan kaayaan dirina sorangan, sieun tatanya sabab ngarasa dirina kolot, sieun nyarita perkara kahadéan, nya éta nu disebut baya téh.
63baya: sieun.

Tandri64 ngaranya, mumulan naña ja ngarasa manéh ireg, mumul miguna na ngeunah hdap deungeun micarék na rampés ka nu réya, ya tandri ngaranya.
Tandri hartina, teu daék tatanya da ngarasa dirina bodo, mumul barang gawé kalawan niat nu hadé, kitu deui mumul nyarita perkara kahadéan ka nu lian, nya éta nu disebut tandritéh.
64tandri: mumul.

Kaléda65 ngaranya, takut miguna na ngeunah tineung ka nu réya, takut mitañakeun manéh, ya kaléda ngaranya.
Kaléda hartina, sieun milampah hiji perkara kalawan pikiran nu hadé ka nu lian, sieun nanya perkara dirina sorangan, nya éta nu disebut kaléda téh.
65kaléda: asa-asa.

Laña66 ngaranya, supen naña ja ngarasa manéh ireg, supen bakti ja ngarasa manéh kwalwat, supen bakti ja ngarasa manéh beu(ng)har, /12r/ (ya)ta laña ngaranya.
Lanya hartina, hésé tatanya sabab ngarasa dirina bodo, hésé ngabakti tina rumasa dirina kolot, hésé ngabakti sabab rumasa dirina beunghar ku pakaya. Nya éta nu disebut lanya.
66lana/lanya: sulit, hésé.

Ragastri67 ngaranya, bwagwah dék suka swanita deung hayang dék beu(ng)har, ragastri ngaranya.
Ragastri hartina, kagégéloan ku wanoja, ogé upama hayang jadi jelema beunghar. Nya éta nu disebut ragastri.
67ragastri: nafsu.

Paladarah68 ngaranya, hayang di rara hulanjar, astri larangan sakalih, ya paladarah ngaranya.
Paladarah hartina, mikahayang awéwé nu geus dicangcang, pamajikan larangan batur, nya éta nu disebut paladarah téh.
68paladarah: nafsu ka awéwé.

Baksya bwa(j)ñana69 ngaranya, tan hana magaway hayu, ya bwa(j)ñana, nga, bwagwah ñatu, bwagwah nginum, deung hje(?) kéna kabeukina dituwukan na sadrasa, yata baksya bwa(j)ñana ngaranya.
Baksya bwajñana hartina, teu daék milampah kahadéan, baksya bwajñana ngaranna. Beuki dahar, beuki nginum, tina sabab kabeukina wungkul kana dahareun nu sarwa ngeunah. Nya éta nu disebut baksya bwajñana téh.
69baksya bwajnana: nafsu kana kadaharan.

Kutila wiwéka70 ngaranya, dimangké-mangké dék miguna na ngeunah hdap deungeun micarék na rampés ka nu réya.
Kutila wiwéka kasebutna, diengké-engké upama rék milampah perkara nu hadé, ogé dina nyarita nu bener ka jalma lian.
70kutila wiwéka: kaputusan licik.

Yata sinangguh dasamala ngaranya, ling sang pandita.
Nya éta nu disebut dasamala téh, ucap sang pandita.


5 – Pancaiyatna
Nihan sinangguh pañcaiyatna71 ngaranya. Ndih ya nihan silwakanya : “Akwa badwa guru suci, amara lagawame, hana pramadaswaté, na imah pari ri kita.”/siloka 3/
Nya ieu nu disebut pancaiyatna téh. Nya ieu silokana: “Akwa badwa guru suci, amara lagawame, hana pramadaswaté, na imah pari ri kita.” /siloka 3/
71pancaiyatna: 5 perkara nu kudu diperhatikeun enya-enya. Nyaéta: (1)Ulah sohor némbongkeun banda milikna di hareupeun nu kolot atawa jalma réa; (2)Henteu sura-seuri nalika ngahaturkeun sembah pangabakti; (3)Henteu dahar jeung nginum hareupeun Sang Pandita (guru); (4)Ulah api lain nalika batur ménta tulung, jeung(5)Henteu daék merhatikeun dirina sorangan ngeunaan hal nu mawa kahadéan pikeun dirina.

Ka: akwa badwa ngaranya, tan dadi ikang sang séwaka darma. Mitwannakeun kwa ba(n)danya ning hareupeun sang matuha, mangka nguni di nu réya.
Maksudna, akwa badwa téh, tacan sampurna jadi nu bakti kana hukum. Némbongkeun banda pakaya dirina hareupeun nu kolot, ogé hareupeun jalma réa.

(Am)ara lagaweg ngaranya, téka sumeuri sumarembah, hanteu ngeunah basa ñatu basa nginum, di hareupeun sang pandita.
Amara lagaweg kasebutna, nyaéta arangah-éréngéh nalika ngahaturkeun sembah. Teu hadé ogé urang barang dahar barang inum, di hareupeun sang Pandita.

Ahana premadaswaté ngaran(ya), aya ta nu dipikeun ku sakalih, kesit tungi diturutan.
Ahana Premadaswaté téh, aya nu dipikabutuh ku batur, urangna kalah gancang api lain.

Pituaheunnana, hanteu dék meunang /9v/ [minang] mitineungkeun manéh, deung hanteu dék ñ(i)yar na pirampéseunnana. Nihan sinangguh pañca-iyatna ngaranya.
Paripolahna téh, teu maliré kaayaan dirina sorangan, jeung teu daék néangan perkara nu mawa kahadéan pikeun dirina. Nya ieu nu disebut pancaiyatna téh.

6 – Dasanaraka
Nihan ta muwah sinangguh dasana(ra)ka,72 nga. Ini byaktana: ceuli, mata, irung, létah, sungut, kulit, leungeun, payu, purusa, suku.
Ieu ogé nu disebut dasanaraka. Ieu écésna: ceuli mata, irung, létah, sungut, kulit, leungeun, dubur, bobogaan, (jeung) suku.
72dasanaraka: 10 naraka. Harti dasanaraka sabenerna mah leuwih lega, nyaéta sapuluh kaayaan tina sapuluh indera (dasaindriya) anu bisa jadi cukang lantaran hiji jalma tigebrus ka naraka. Sapuluh indera nu dipiboga ku unggal jalma nyaéta: ceuli, panon, irung, létah, sungut, kulit, leungeun, dubur, purusa (bobogaan), jeung suku anu teu dimangpaatkeun dina kahadéan, tapi dipaké milampah jahat.

Ka: ceuli ngara(n)na, mulah salah déngé, téréh wangwang kapireungeu. Byaktanya: ha/11v/war, cwangé, twarék, cadang. Sakitu pipapaeunnana, dina talinga.
Maksudna: nu ngaranna ceuli, ulah salah déngé, gancang hariwang tina naon nu kadéngé. Balukarna: hawar, congé, torék, cadang. Sakitu nu matak sangsara tina ceuli téh.

Mata ngara(n)na, mulah sajeueung jeueungna, lamun ka hula(ñ)jar sakalih, astri larangan sakalih, lamun lai(n) bwaga urang. Byaktana ma: pécak, bwalwar, putikeun, céang, buta lwarongeun,73 mata kwatwakeun, bilas susuheun. Sakitu pipapaeunnana, di mata.
Panon ulah saténjo-ténjona, upama ka hulanjar batur, istri larangan batur, lamun lain milik urang. Balukarna mah: pécak, bolor, putikeun, céang, buta lorongeun, mata kotokeun, bilas susuheun. Sakitu nu ngajadikeun sangsara dina mata.
73buta lwarongeun: buta lorongeun (kiwari buta rorongeun).

Irung ma ngara(n)na, geura bwagwah saa(m)beu-a(m)beuna, lamun ngambeu [ki] ku biuk hapeuk ku biuk ku hañir, ku hangit, téka dipaké bumaresin, ngahubus. Byaktana ma, mékmék. Sakitu pipapaeunnana dina irung.
Nu disebut irung, resep dipaké saambeu-ambeuna, upamana ngambeu bau hapeuk bau hanyir, hangit, éta laju kalah bersin atawa ngahubus. Balukarna mah: mékmék. Éta nu matak sangsara dina ceuli téh.

Létah ma ngarasa, geura bwagwah sarasa-rasana, lamun ku bira ku tiis, ku bacin, ku haseum ku lada, ku pangsét, téka dipaké usuh-asahan. Byaktana ma: pireu, pétal cadél. Sakitu /11r/ pipa(pa)eunana, di létah ngara(n)na.
Létah mah ngarasa, resep sarasa-rasana, ku rasa bira atawa tiis, ku asin, haseum, ku lada, ku pangsét, éta laju dipaké asal ngasaan. Éta nu matak sangsara dina létah téh.

Sungut ma ngara(n)na, bwagwah dipaké kumapang-kapang, héngan dipaké sacarék-carékna, mangka nguni dipaké ñumpah madahkeun, ngajak ngapus ka sakalih. Byaktana ma: swa(m)béng, béngwa, deda. Sakitu pipapaeunana, di sungut.
Nu disebut sungut, sok dipaké ngomong kaleuleuwihi, ngan dipaké sacarék-carékna, ogé dipaké nyumpahan tur nuduh, atawa ngajak nipu ka batur. Balukarna mah: suing, béngo, deda. Éta nu ngajadikeun sangsara, di sungut.

Kulit ma ngara(n)na, bwagwah saprasa-prasana, lamun ku panas ku tiis, ku mérang ku ateul, dipaké gulanggaséhan. Byaktana ma: tibar, bisul, bwalwangeun, radang, kuris béang, saukar balas galigata. Sakitu pipapaeunana, di kulit.
Nu ngaranna kulit, sok dipaké asal ngarasa, upama keuna ku panas jeung tiis, ku mérang ku ateul, dipaké gulinggasahan. Balukarna mah: tibar, bisul, bolongeun, radang, kuris, béang, kaasup balas galigata. Sakitu nu nyababkeun kasangsaraan dina kulit téh.

Leungeun ma ngara(n)na, bwagwah dipaké sacokot-cokotna, manguni bwaga sakalih, ka tataneman sakalih, sañarah dipaké meureup newek, nwatwak mwakwal, nampar, ngajambak, ñiwit nga/10v/getil. Byaktana ma: kékéd ré(m)péng, bu(n)tung, kengkeng. Sakitu pipapaeunana, dina leungeun.
Nu disebut leungeun, sok dipaké sacokot-cokotna, ogé nyokot banda batur, atawa ka pepelakan batur, sumawonna dipaké meureup, newek, notok, nakol, nampiling, ngajenggut, nyiwit, nyintreuk. Balukarna mah: kékéd, rémpéng, buntung, kengkeng. Sakitu nu nyababkeun kasangsaraan dina leungeun.

Tumbung74 ngara(n)na, bwagwah sahetut-hetutna, ngising sageusan-geusanna, di pigir imah sakalih, sañarah dipaké muak. Byaktana: kabeuratan, tuju pañcar, kalingsir, uireun. Sakitu pipapaeunana, di tumbung.
Nu disebut tumbung, dipaké hitut sakarepna, ngising sangeunahna, di pipir imah batur, ogé dipaké muak. Balukarna: kabeuratan, tuju pancar, kalingsir, uireun. Sakitu picilakaeunana dina tumbung.
74tumbung: dubur.

Purusa75 ma ngara(n)na, bwagwah sakiih-kii(h)na, sañarah tu dipaké ngambah lanang wadwan, papa(ñ)jingan, kapiadi kapilañceuk, kapisuan, kapwanakan. Byaktana ma: burut pétwat, lañjwa, halang wisaya, peluh. Sakitu pipapaeunana, di (pu)rusa ngara(n)na.
Nu disebut purusa, sok dipaké sakiih-kiihna, sumawonna dipaké ngambah jajaka jeung wanoja, salingkuh, ka kapiadi, kapilanceuk, kapisuan, kapialo. Balukarna mah: burut, pétot, lanjo, halang wisaya, peluh. Sakitu picilakaeunana dina purusa.
75purusa: kelamin.

Suku ta ma ngara(n)na, bwagwah dipaké sati(ñ)cak-ti(ñ)cakna, saleumpang-leumpangna, mangka nguni lamun ngalér ngidul ngulwan ngétan, lamun titarum tipagut, tuluy /10r/ dipaké néjéh. Byaktana ma: lisuh, pateuh, añjingeun caniranan, sakitu pipapaeunana, di suku ngaranya.
Nu disebut suku, sok dipaké satincak-tincakna, leumpang sakarepna, sumawonna upama leumpang ngalér ngidul ngulon ngétan, upamana titajong, laju dipaké néjéh. Balukarna mah: lisuh, pateuh, anjingeun, caniran. Sakitu picilakaeunana dina suku.

Nihan si(n)angguh dasanaraka ngaranya, kayatnakeu(n) na sang séwaka darma, hayua pinintuhu ika.
Ieu saenyana nu disebut dasanaraka téh, nu kudu diperhatikeun ku nu ngabdi kana darma, ulah diturutan perkara anu kitu téh!.

7 – Caturpasanta
Nihan sinangguh caturpasanta76 ngaranya. Byaktanya nihan: cakrajala kuna, cakrajala paksa, cakra sabirana, cakra tarangga hahu. /20r/
Ieu saenyana nu disebut caturpasanta téh. Ieu kanyataanna: cakrajala kuna, cakrajala paksa, cakra sabirana, cakra tarangga hahu.
76caturpasanta: 4 penenang, 4 penawar.

Cakrajala kuna ma ngaranya matapwaéh,77 pamahalana ka sarira: lamur, pécak, bilas sakit mata, buta lwarongeun, mata kwatwakeun, hulag.
Cakrajala kuna nya éta matapwaéh, nu ngabalukarkeun kasangsaraan kana diri nya éta:lamur, pecak, nyeri panon, buta lorongeun, rabun ayam, rabun.
77matapwaéh: panonpoé.

Cakrajala paksa ma cai, mahalana ka sarira: gumigil panas tiris.
Cakrajala paksa nya éta cai, nu ngabalukarkeun kasangsaraan kana diri, ngadégdég panas tiris.

Cakra sabirana ma ngara(n)na angin, mahalana ma ka sarira: béang galigata, pipisisan, sing sawatek kasakit di kulit.
Cakra sabirana nya éta angin, nu ngabalukarkeun kasangsaraan kana diri: béang, kaligata,pipisisan, sakabéh jenis panyakit dina kulit.

Cakratarangga bahu ma gunung ngara(n)na, mahalana ka sarira ma: rieut hulu, neri beuteung, medu, kawayaan, sakwaéh sakit di jeba beuteung.
Cakratarangga bahu nya éta gunung, sumber kasangsaraan kana diri: rieut sirah, nyeri beuteung, kembung, kawayaan, sakabéh panyakit di jero beuteung.

Nihan sinangguh caturpasanta ngaranya, kayatnakeun sang séwaka darma, haywa ri rahasya.
Ieu saenyana nu disebut caturpasanta téh. Perhatikeun ku pengabdi darma, ulah dirahasiakeun!.

8 – Trimala
Carékna Sanghyang Tu(ng)gal: “Na naha piangeneunana, sang hya(ng) pustaka ini? Kéna karah aing dék ngab(e)jalkeun carita, metuna sanghya(ng) siksa guru,78 ti sanghya(ng) siksa.”79
Carékna Sang Hyang Tunggal: “Naon atuh lenyepaneunana, tina ieu buku suci téh? Ah, sababna alatan kami dék ngagelarkeun carita, gelarna sanghyang siksa guru, tina ‘sanghyang siksa’.
78sanghiang siksa guru: ajaran suci guru.
79sanghiang siksa: ajaran suci.

[Ndeh nihan sang hya trikaya madala parisuda ngaranya Trika]
Ieu pikeun babandingankeuneun.

Ini ma na timpalkeuneun, mulah dék mitemen ina sang séwaka darma. Na puhun awah-awuh, tangkal ning /14v/ papa (ka)lésa, wwit ning kaliyuga, hétu ning papa ning (na)raka. Ngara(n)na, trimala,80 guna.
Ulah dék ngukuhan nu kitu wahai nu ngarabdi kana darma! Tanwandé jadi sumber tina bancang pakéwuh, sumber tina/14v/ kasangsaraan tur kahinaan, awal tina jaman burakrakan, cukang lantaran kasangsaraan di naraka. Éta disebutna téh, trimala, (dina) laku lampah.
80trimala: 3 kaayaan kotor, museurkeun pangajaranana kana: ucap (sabda); lampah (ulah); jeung tékad (ambek) nu aya dina diri manusa.

Nihan lwirnya: ika sinangguh trimala ngaranya, kadyangganing gangsa lawan malam, tambaga lawan timah. Apa ta kangken tambaga lawan timah?
Nya ieu wujudna téh. Ieu nu disebut trimala, lir ibarat gangsa jeung lilin, tambaga jeung timah. Naon nu diibaratkeun tambaga jeung timah téh?.

Ning kang tridusta:81 (sabda tan yukti), ulah tan yukti, ambek tan yukti. Ginawayaken sabda mahala,82 ulah mahala,83 ambek mahala.84
Ieu tridusta téh: ucapan nu teu merenah, paripolah nu henteu merenah, maksud nu teu merenah. Ngalakukeun ucapan nu jahat, laku lampah jahat, maksud nu jahat.
81tridusta: 3 kajahatan.
82sabda mahala: ucapan jahat.
83ulah mahala: laku lampah/paripolah jahat.
84ambek mahala: maksud jahat.

Ini byaktana, ulah mahala: notok mokol, newek meureup, ngadeudeul, no(n)jok nakétro(k), nampar na(m)pélang, sakwéh ning lekas tangan, ya ulah mahala, nganya.
Ieu tegesna ulah mahala: notok, nakol, newek, meureup, neunggeul, nonjok, neunggarkeun, nampiling, jeung sakur laku lampah tina hampangna leungeun, nya éta nu disebut ulah mahala téh.


Sabda mahala ngara(n)na: torong gasong tanpa karana, campe(la)k sabda, numpah madahkeun, ngadudu, neluh, ngupat guru, sakwa(é)h ning sabda tan yukti, ya sabda mahala ngaranya.
Nu disebut sabda mahala: nuduh jeung nyarékan tanpa sabab, ngalélécé dina omongan, nyumpahan sarta moyok, nyela, neluh, ngupat guru, katut sakur omongan nu teu pantes, nya éta nu disebut sabda mahala téh.

Ambek mahala ma ngaranya: kira-kira, budi-budi, ngajerum, ngagunaan, mijaheut[a]/14r/[t]an, nganeluh, ngaracun, hiri paywagya. Ageus ma nu mupu maling papa(n)jingan[a] méda rungahadang. Sing sawatek tan ywagya, dipitwah dipih(e)dap, ya éta ambe(k) mahala.
Nu disebut ambek mahala: ngira-ngira, nipu, mitnah, nyihir, nganyenyeri ati, neluh, ngaracun, hiri dengki jeung goréng sangka. Kitu deui nu ngala pepelakan batur, maling, asup tanpa idin, napsu pikeun ngarogahala. Sakur nu henteu pantes dilakonan sarta diniatan, nya éta nu disebut ambek mahala téh.

Yata sinangguh trimala ngaranya. Nihan sinangguh trimala wisésa85 ngaranya. Hana ya di sang prabu, rama, resi, mwang tarahan.
Nya éta nu disebut trimala téh. Nya ieu nu disebut trimala wisésa. Ayana di sang prabu, rama, resi jeung tarahan.
85trimala wisésa: 3 ceda dina kakawasaan.

Ini byaktana, aya ta kajeueung nu duka, dijual dihulunkeun, dirampas dipihehan. Yata sinangguh panca kapataka86 ngaranya, sinangguh truma(la) wisesa ngaranya, ling sang pandita.
Ieu écésna mah: aya nu katingali keur susah, kalah dijual dijieun budak beulian, atawa dirampas jeung dipaéhan. Nya éta nu disebut pancakapataka, disebut ogé trimala wisésa. omongan Sang Pandita.
86panca kapataka: 5 kasangsaraan.

Kamis, 24 Oktober 2019

MEMAHAMI RAHASIA WANGSIT SILIWANGI

By Deden Heryana

Carita Pantun Ngahiangna Pajajaran
Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!


Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang : “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”


Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!


Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!


Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!


Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!


Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.


Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.


Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.
Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!


Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.
Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.


Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.
Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.


Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.


Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!


Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.


Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!
Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul.


Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.
Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!


Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!


Terjemahan bebas Uga Wangsit Siliwangi:


Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu beliau sebelum menghilang:
“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin”


Dengarkan!
Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! (Maksudnya ke arah pantai selatan)
Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! (Maksudnya Pantai Utara)
Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! (Maksudnya ke Arah Jawa Tengah, Jogja dan Jawa Timur)
Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat! (Maksudnya ke pantai barat Jawa, Baduy)
Dengarkan!
Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! (Kerajaan Majapahit, Presiden Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Mega, SBY dan Jokowi) dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain.
Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. (Terjadilah insiden Perang Bubat antara Majapahit dan Pajajaran, Berkuasanya Orde Baru)
Akan ada pembalasan untuk semua itu. (Majapahit jatuh, Orde Baru jatuh) Silahkan pergi!


Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. (Mereka yang datang dari Barat adalah para tokoh sebelum Wali Songo, seperti Syeh Quro-Karawang yang berasal dari Makkah, Syeh Datuk Kahfi-Cirebon yang menjadi Guru Ki Santang, kelak keturunan mereka (Sunan Gunung Jati)akan banyak mengingatkan manusia, mereka merambah Nusantara)


Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. (Gunung Halimun adalah wilayah Kab Bogor dan Kab Sukabumi sekarang, suara minta tolong pertanda Orang Sunda sudah sangat menderita, dan penderitaan itu terdengar hingga tengah malam)
Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné.
(Lebak Cawene adalah perumpamaan sebuah daerah berbentuk cekungan/mangkok raksasa, daerah ini adalah Kota Bandung, disini lah berkumpulnya semua Orang Sunda di seluruh Nusantara dan Dunia)
Jangan sampai berlebihan, (Pesta pernikahannya adakanlah dengan sederhana, mengundang anak yatim dan fakir miskin jangan sampai lupa, jangan berlebihan) sebab nanti telaga akan banjir! (akan terjadi banjir besar, bendungan jebol! Dan tanda-tanda akan jebol sudah dimulai dengan pengisian bendungan Jatigede)
Silahkan pergi! (Tinggalkan rumahmu) Ingat! Jangan menoleh kebelakang! (Jangan hiraukan lagi rumahmu yang bakal tenggelam karena air bah)


Kalian yang di sebelah utara!
Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. (Orang Sunda takkan pernah masuk ke kota di Utara, mereka hanya akan berada di padang yang perlu diolah, itulah Karawang, Tangerang, Bekasi, Depok, lahan sawah di sekitar Ibukota). Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. (Terbukti orang Sunda susah masuk ke Ibukota). Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. (Banyak tokoh Sunda yang menjadi pejabat, namun tidak punya kekuasaan sampai ke seluruh Nusantara). Suatu hari nanti akan kedatangan tamu (terbukti, Jabodetabek, Bandung dan Kota Besar di Jawa Barat dipenuhi oleh tamu dalam dan luar negeri, yang sekolah dan kuliah juga banyak), banyak tamu dari jauh (kawasan Puncak sekarang banyak dipenuhi orang-orang dari Timur Tengah), tapi tamu yang menyusahkan (terbukti sekarang para TKI mayoritas dari Jawa Barat, mereka dibawa para tamu ke luar negeri, dan di luar negeri para tamu membuat mereka menjadi susah, banyak TKI yang dihukum mati gara-gara tamu). Waspadalah!


Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, (Prabu Siliwangi akan mengunjungi semua keturunannya) tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, (Beliau akan kembali lagi) menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya.


Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. (Yang bisa mengetahui kedatangan beliau hanya orang-orang makrifat yang sudah satu tujuan dengan beliau, karena beliau adalah salah satu wali yang sudah sampai derajat makrifat) Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. (Beliau datang dengan wewangian, simbol akhlak yang mulia dan perangai dari ahli makrifat lah yang diizinkan bertemu beliau)


Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. (Kota dan kerajaan Pajajaran masih ada tapi di alam Ghaib saja, hanya manusia makrifat yang diizinkan Gusti Alloh yang bisa menyaksikannya) Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! (Manusia akan banyak menolak jika ditunjukkan bukti, padahal sudah nyata! Kecuali manusia yang sudah makrifat, mereka bisa menerima bukti tersebut) Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali (para ahli makrifat akan mencoba menemukan yang hilang dari sejarah beliau). Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. (dasar disini adalah pemahaman yang benar akan syariat-thoriqot-hakikat-makrifat) Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong, dan bahkan berlebihan kalau bicara. (mereka belum sampai kepada thoriqot, hakikat dan makrifat dari urusan beliau, baru sampai di syariat saja, jika sudah tahu, maka akan banyak diam dan tidak merasa pintar, apalagi sampai sombong dengan ilmunya)


Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. (Ilmu yang diterima tidak utuh, hanya sebagian-sebagian saja) Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! (Akan muncul pemimpin yang membuat banyak larangan, zaman Belanda, Jepang terbukti adanya) Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan (menunjukkan sifatnya yang keras hati, larangan kerap diterjang), mencari sambil melawan (menunjukkan sifatnya yang keras kepala), melawan sambil tertawa (menunjukkan sifatnya yang mudah tertawa, dalam sikap yang keras kepala). Dialah Anak Gembala (Anak gembala adalah simbol ketekunan, kesabaran membimbing manusia) Rumahnya di belakang sungai (rumahnya tidak jauh dari sungai), pintunya setinggi batu (sosok orangnya tinggi), tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang (Banyak tanaman hias).


Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. (si anak gembala pekerjaannya mengumpulkan daun kering dan sisa potongan pohon di halamannya, ini menunjukkan si anak gembala hidup di perkotaan bukan di pedesaan, daun kering adalah simbol kertas dan pohon adalah simbol pena, si anak gembala sangat ahli dalam tulis menulis, mengumpulkan tulisan di sana sini) Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. (hobby si anak gembala itu mencari, dan mengumpulkan potongan-potongan puzzle teka-teki tentang Prabu Siliwangi dan Kerajaannya, lalu disusun enjadi satu) Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian (si anak gembala akan menyaksikan banyak sejarah, ia senang sekali dengan sejarah, dan juga bertemu dengan sejarah pada zamannya), selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi. (Sejarah akan berulang, maka Presiden Soekarno berpesan dengan JASMERAH, Jangan sekali-kali melupakan sejarah!!! Sebab sejarah akan berulang kembali)


Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan. (Ini bukti para penjajah Belanda/Bule akan datang ke Tanah Sunda, raja-raja tak punya kuasa sudah terbukti, karena di bawah kendali penjajah, sifatnya hanya sementara saja mereka berkuasa)


Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet (monyet adalah simbol manusia yang tak pernah puas dan tak mau bersyukur). Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. (Banyak orang Sunda yang sadar siapa mereka sebenarnya, setelah dibuai mimpi dan merekapun terbangun dari tidur panjangnya) Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. (Manusia mulai mencari rahasia masa lalu tentang Pajajaran, satu per satu terbuaka rahasia) Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, (banyak kejadian sejarah yang bukan sebenarnya ditulis) banyak yang dicuri bahkan dijual! (banyak budaya kita yang dicuri orang luar, lagu daerah kita dan makanan, serta orang sunda sendiri banyak dijual, dijadikan budak nafsu di luar negeri) Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! (Banyak orang Sunda yang tidak mengikuti zaman yang sudah banyak berubah) Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah! (banyak terjadi perubahan di dunia menuju arah yang tak jelas, di timur dan barat sudah terlihat)


Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. (inilah kondisi saat penjajah lari, sewaktu Indonesia Merdeka) Negara pecahan diserbu monyet! (Soekarno berkata : Perjuanganku lebih ringan, karena mengusir penjajah, perjuangan kalian lebih berat, karena menghadapi bangsa sendiri. Bangsa sendiri banyak yang rakus dengan harta di negara ini)


Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, (Belanda pergi, namun Jepang datang, kita belum bisa tertawa lepas) sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. (Inilah zaman yang penuh dengan penyakit, sawah diserang penyakit, pasar pun menjadi sumber penyakit karena jorok, kebun pun terserang hama, wanita hamil pun tak luput dari penyakit kekurangan gizi. Banyak bangsa ini yang menjadi dokter, tenaga medis untuk menghadapi penyakit yang makin banyak, alat-alat kedokteran untuk mengatasi penyakit pun makin banyak)


Banyak yang mati kelaparan. (Kasus kekurangan gizi menyebar ke Nusantara di zaman Jepang) Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam (kondisi pertanian yang susah mendorong masyarakat untuk bercocok tanam) sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi. (Namun ilmu bercocok tanam dari para leluhur sudah ditinggalkan)


Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. (Inilah jatuhnya Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki) Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. (terjadilah perang di Surabaya) Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. (Banyak yang berkhianat saat Republik ini berdiri, mereka bersekutu dengan musuh) Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. (Banyak anak menjadi yatim piatu dan mesti menghidupi adik-adiknya) Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya, seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang. (Perang pun usai, dihentikan oleh sekutu)


Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. (Inilah Soekarno, Ibunya berasal dari Pulau Dewata/Bali) Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! (Soekarno susah sekali dianiaya, dibunuh dan dibom) Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran. (Disinilah munculnya Orde Baru, negara kita didikte oleh asing, hasil bumi Emas di Freeport dijual murah kepada asing)


Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup (ini adalah gambaran orde baru, dengan bentengnya, dengan pasukannya, laksana benteng) membuat pancuran ditengah jalan, (akan muncul kolam-kolam air di tengah jalan, taman-taman) memelihara elang dipohon beringin (elang adalah simbol hewan yang matanya tajam mengawasi, beringin adalah simbol partai Golkar, itu semua terjadi waktu Orde Baru, mereka mengawasi semua gerak-gerik rakyat). Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat (Penguasa zaman orde baru banyak yang buta mata hatinya), segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah. (Inilah wujud kondisi negeri ini di awal orde baru, banyak penyakit, menderita, banyak kejahatan dan koruptor bermunculan)


Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya (Mereka yang menegur penguasa, mengkritik penderitaan rakyat justru malah ditangkap, ini terjadi pada kelompok Petisi 50). Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli (Penguasa yang tidak peduli dengan hati nuraninya, karena sudah buta dan tuli), memerintah sambil menyembah berhala (rakyat pun tahu, pemimpin di negeri ini banyak menyembah, harta, tahta dan wanita). Lalu anak-anak muda salah pergaulan (banyak anak muda yang kebablasan, gadis-gadis hamil sebelum menikah, terjadi aborsi dimana-mana), aturan hanya menjadi bahan omongan (hukum di negeri ini sekadar omongan tanpa penerapan), karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri (Inilah potret anggota Legislatif DPR RI/DPRD Prov/DPRD Kota/Kab yang banyak di Indonesia hari ini, bukanlah orang yang mengerti tentang hukum) Wajar saja bila kolam semuanya mengering (Banyak situ dan danau yang karena pembangunan, banyak sampah, salah izin tentang pengembangan lahan seperti sawit, yang dampaknya membuat danau mengering), pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan (beras miskin pun tak disalurkan kepada yang miskin), sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong (banyak penguasa yang hanya janji saat kampanye, saat berkuasa lupa dengan janjinya), semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.


Pada saat itu datang pemuda berjanggut (simbol orang-orang tua yang masih kukuh memegang prinsip), datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua (pakaiannya sederhana saja). Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, (pekerjaan orang tua itu menjadi pengingat bagi banyak orang) tapi tidak dianggap. (namun sayang masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan sosok pemuda yang berjanggut ini) Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. (Karena gelar sudah banyak, ilmu pun merasa sudah tinggi)


Mereka tidak sadar, langit sudah memerah (simbol banyaknya asap, menjadikan langit berubah menjadi merah, ini kita rasakan dengan banyaknya kebakaran hutan), asap mengepul dari perapian (Gunung sudah banyak meletus). Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. (Yang menyampaikan kebenaran banyak dibungkam) Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain (banyak orang yang mengkavling tanah orang lain dan mengacak-acak aturan yang sudah ada, sengaja diperkarakan sampai ke tingkat yang lebih tunggi MA/Mahkamah Agung), beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan. (Inilah simbol dari semakin banyaknya persoalan muncul hanya gara-gara tanah)


Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran (Kebenaran Pajajaran ini akan dilarang untuk diungkap). Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. (Para penguasa takut terbuka kartunya, bahwa mereka menyembunyikan hakekat Pajajaran sesungguhnya) Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan. (Rezim berkuasa sudah lebih jahat dari Belanda, rakyat semakin susah hidupnya, perilaku mereka sudah laksana hewan yang sekadar memuaskan nafsu syahwat semata)


Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama (Tak akan lama lagi derita rakyat Pajajaran usai), tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. (Rakyat hanya berharap kepada Gusti Alloh semata, bahwa mereka akan merubah kesengsaraan yang ada) Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri. (Kejahatan penguasa kepada rakyatnya, yang membuat rakyat susah, akan menimpa dirinya sendiri)


Kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! (Si anak gembala, yang ladangnya dipenuhi tanaman hias dan obat, orang perkotaan namun hidupnya sederhana, jago dalam tulis menulis)


Di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah (Daerah ini sudah muncul di Sumedang, saat rakyat Sunda memprotes dibukanya bendungan Jatigede) semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara (Lalu meluas ke seluruh negeri Nusantara, karena kondisi sudah susah menderita) yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. (Gambaran suasana yang makin kacau, banyak cekcok dan adu mulut, manusia kehilangan akal sehatnya)


Dipimpin oleh pemuda gendut! (Simbol pemuda yang rakus, posturnya gendut-gendut) Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. (Tanah jadi rebutan, wilayah jadi persoalan, kasus tanah di negeri ini semakin banyak) Yang sudah punya ingin lebih (inilah simbol kerakusan), yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam (orang yang tahu bahwa perkara itu salah, tak bisa banyak berbicara), mereka hanya menonton (hanya melihat di TV, internet dan koran) tapi tetap terbawa-bawa (ikut-ikutan bertengkar ribut di sosial media, TV dan koran).


Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. (Para Investor diam-diam menguasai tanah sejengkal demi sejengkal, para pengamat yang ribut hanya dapat hal yang kosong sia-sia). Para penguasa lalu menyusup (penguasa mencari info siapakah investor yang membeli tanah-tanah itu), yang bertengkar ketakutan (para pengamat pun mulai dicekam ketakutan karena omongannya kian ditinggalkan), ketakutan kehilangan negara (penguasa takut kursinya hilang, mereka kian tak peduli dengan rakyatnya), lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang (Pemuda kota itu, yang tinggal di ujung sungai pun dicari! Yang hobbynya tulis menulis) Semua mencari tumbal, (Semua saling menyalahkan) tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné! (Pemuda Kota itu sudah pergi bersama Gurunya, pemuda berjanggut, hijrah ke Kota Bandung!)


Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. (Mereka pulang dengan tangan hampa)


Dengarkan!
Jaman akan berganti lagi, tapi nanti, (Rakyatku Pajajaran, zaman akan berganti, tidak lama lagi) Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. (Akan meletus gunung diikuti oleh bencana, Gempa, Bumi bergerak, Air Laut pun meluap!)


Ribut lagi seluruh bumi. (Menjadi berita besar di seluruh dunia)
Orang sunda dipanggil-panggil, (Orang Sunda yang dizhalimi dipanggil kembali) orang sunda memaafkan (Orang Sunda memaafkan semua kezholiman yang ditimpakan kepada mereka). Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali (disatukan oleh Orang Sunda). Nusa jaya lagi (Indonesia Jaya Kembali), sebab berdiri ratu adil (Ratu Adil adalah istilah dari Pemimpin yang Adil, sehingga membawa rakyat di negeri ini menjadi gemah ripah loh jinawi), ratu adil yang sejati. (Karena banyak manusia yang menafsirkan si A atau si B sebagai Ratu Adil, padahal, ada Ratu Adil yang sesungguhnya, yang sejati)


Tapi Ratu siapa?
Darimana asalnya sang Ratu?
Nanti juga kalian akan tahu.


Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala (Pemuda inilah yang akan mengabarkan siapa sang Ratu Adil, rahasianya ada di pemuda gembala ini).


Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang (Jangan lah mundur lagi ke belakang! Naik lah terus, laksana naiknya maqam, dari Syariat, Thoriqot, Hakikat dan terakhir Makrifat!!


Inilah Ujung dari Wangsit Prabu Siliwangi.
Muncul pertanyaan besar.


Lalu apa yang akan dilakukan oleh Ratu Adil???
Jawabannya ada di awal wangsit Prabu Siliwangi.


Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang : “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! Ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”


Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu beliau sebelum menghilang:


“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini,
walaupun kalian semua setia padaku!
Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini,
membuat kalian susah,
ikut merasakan miskin dan lapar.


Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti,
agar besok lusa,
kalian hidup senang kaya raya
dan bisa mendirikan lagi Pajajaran!


Bukan Pajajaran saat ini
tapi Pajajaran yang baru
yang berdiri oleh perjalanan waktu!


Pilih!
Aku tidak akan melarang,
sebab untukku,
tidak pantas jadi raja
yang rakyatnya lapar dan miskin”


Jadi kelak Ratu Adil akan membawa dunia ini menuju kemakmuran, kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja diawali dari Jawa Barat, tempat lahirnya Kerajaan Pajajaran, akan lahir Kerajaan Pajajaran yang baru, yang makmur, tidak miskin maupun kelaparan rakyatnya. Inilah zaman yang dinanti-nantikan. Baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghofur. (Negeri yang mengeluarkan kebaikan, dan mendapatkan ampunan dari Gusti Alloh). Inilah Pajajaran baru, pusat dunia baru. Nusantara. Indonesia.


Ada hubungan sangat kuat antara Imam Mahdi dalam Sunan Ibnu Majah dan Ratu Adil yang membawa Pajajaran menjadi kaya raya. Perhatikan hadist berikut


Sunan Ibnu Majah 4073: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Marwan Al 'Uqaili telah menceritakan kepada kami 'Umarah bin Abu Hafshah dari Zaid Al 'Ammi dari Abu Shidiq An Naji dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan ada pada ummatku Al Mahdi, jika dipendekkan (hidupnya bersama kalian) maka menjadi tujuh (tahun), dan jika tidak maka menjadi sembilan (Tahun). Lantas ummatku akan mendapatkan kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan sama sekali (sebelumnya). Akan diberikan makanannya, maka janganlah kalian menyimpannya sedikitpun. Dan harta benda pada hari itu begitu melimpah, lalu ada seorang laki-laki berdiri sambil berkata, 'Wahai Al Mahdi, berilah aku.' Ia menjawab, 'Ambillah'."


Jadi siapakah sosok Ratu Adil dan Imam Mahdi dalam wangsit Prabu Siliwangi dan dalam Hadist tersebut? Apakah dia sosok yang sama?


Jawabannya sudah Prabu Siliwangi beritahu, karena beliau seorang Waliyulloh.
sabab ngadeg ratu adil;
ratu adil nu sajati.
Tapi ratu saha?
Ti mana asalna éta ratu?
Engké ogé dia nyaraho.
Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!


sebab berdiri ratu adil
ratu adil yang sejati.
Tapi Ratu siapa?
Darimana asalnya sang Ratu?
Nanti juga kalian akan tahu.


Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala (Pemuda inilah yang akan mengabarkan siapa sang Ratu Adil, rahasianya ada di pemuda gembala ini).


UGA

Oleh : Nandang Rusnandar


Penelitian yang mendalam mengenai ‘uga’ pada umumnya dan Uga Bandung pada khususnya masih terbatas sekali dilakukan, walaupun ada hanya sebatas tulisan lepas berupa artikel dalam media massa. Demikian juga halnya dengan penelitian yang secara khusus mengenai Uga Bandung sebagai Pengetahuan Orang Sunda dalam Memprediksi dan Mengantisipasi Fenomena Alam, belum ada yang melakukan penelitian. Penelitian yang dilakukan sebatas pengungkapan yang dituangkan dalam berbagai artikel dalam surat kabar, seperti yang dilakukan oleh Nina Herlina Lubis yang membahas mengenai Uga Kampung Dukuh.[1] Begitu pula dengan Surat Kabar lokal[2] menulis beberapa artikel sekaligus, di antaranya artikel yang berjudul Wangsit Siliwangi; dalam kolom Bray, Jakob Sumardjo mengungkapkan Uga mengenai Kepemimpinan Trias Politika Siliwangi yang diuraikan berdasarkan kajian hermeunetika.

Artikel lain yang berjudul Wangsit Siliwangi “Leubeut ku Siloka jeung Simbul” (Wangsit Siliwangi “penuh dengan siloka dan simbol”), hasil wawancara dengan Oman Abdurahman. Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Suwarsih Warnaen, dkk. (1987) Dalam bukunya yang berjudul Pandangan Hidup Orang Sunda Seperti Tercermin Dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda, uraian mengenai Uga mulai dari halaman 5 (lima) sampai dengan halaman 17 (tujuh belas). Mereka mengungkapkan Uga secara umum di antaranya:

1) Uga Bandung : Sunda nanjung, lamun nu pundung ti Bandung ka Cikapundung geus balik deui. (wawancara, 1980)

2) Uga galunggung : Sunda nanjung lamun pulung turun ti Galunggung. (wawancara, 1980)

3) Uga Banten : Nagara kartaraharja lamun lebak cawene geus kapanggih. (wawancara 1980)

4) Uga Kawasen : Urang kudu peperangan, dina keur nyieun jalan tengah di Gunung Kendeng, maung ngembang dadap di cai buhaya ngembang kaso. Dina keur peperangan kade kudu bareng jeung kolot, urang ulah hareup teuing bisi kaleyek, ulah tukang teuing bisi katinggaleun.

5) Ari nu bakal jadi ratu, baju butut bobodong batok, anu jolna ti gunung surandil, banderana kararas cau.[3]

Bagi masyarakat Banjar khususnya masyarakat yang berdomisili di daerah Lakbok, Uga Kawasen ini lebih dikenal dengan istilah Buk Kawasen. Dalam tradisi masyarakat Agraris-tradisional, baik di daerah Sunda (Jawa Barat) harapan yang disimpan dalam bentuk ramalan disebut Uga. Hal tersebut dikarenakan masyarakat percaya bahwa perubahan sosial akan terjadi sesuai dengan ramalan para karuhun. Bagi tradisi Jawa, dikenal dengan istilah pralambang, dengan adanya ramalan yang terkenal dengan sebutan Ramalan Jayabaya, dengan ramalan ini, mayarakat Jawa yang sangat mempercayai akan lahir dan datangnya Ratu Adil. Bagi kalangan masyarakat suku Bangsa di sekitar kepulauan Melanesia termasuk suku-suku bangsa di Irian Jaya, kepercayaan itu biasa disebut orang-orang barat dengan istilah cargo cult (Worsley, 1957; Koentjaraningrat, 1963, Suwarsih, 1987 :7)

Dalam penelitian yang diketuai oleh Suwarsih Warnaen, dengan anggota : Dodong Djiwapradja, H. Wahyu Wibisana, Kusnaka Adimihardja, Nina Herlina Sukmana, dan Ottih Rostoyati, diuraikan bahwa uga sebagai suatu ramalan ‘prophecy’ atau dalam bahasa Sunda disebut tujuman di dalamnya mengandung pengertian adanya ramalan ke arah perubahan sosial dan politik, ‘prophetic ideology’, dalam pengertian uga, juga terkandung faktor waktu yang sudah ditentukan oleh karuhun ’ leluhur’, dapat dipergunakan untuk melihat tanda-tanda zaman, dan dalam uga dapat dijadikan sebagai gerakan nativisme, yaitu gerakan sosial yang digerakkan oleh interpretasi yang ada di dalamnya. Untuk memahami apa yang ada dalam uga ini, maka cara menganalisis dan menginterpretasinya mempergunakan kata-kata kunci ‘key words’ yang terdapat dalam uga sehingga pada akhirnya makna dan arti uga itu dapat ditelusuri sesuai dengan makna yang ada dalam kata-kata itu sendiri dikaitkan dengan situasi sekarang.

Nina HL, jauh sebelumnya merupakan anggota peneliti yang diketuai oleh Suwarsih Warnaen, sehingga dalam uraiannya mengenai pengertian uga sama dengan apa yang diungkapkan dalam penelitian sebelumnya. Ia menyitir uga Dukuh sebagai berikut : Di ahir jaman bakal loba parahu. Urang Dukuh mah makena parahu belang “Di akhir zaman nanti akan terdapat banyak perahu. Orang Dukuh akan memakai perahu belang”. Dalam uraiannya, dapat disimpulkan bahwa Uga yang dipercayai oleh komunitasnya merupakan suatu harapan yang bersifat mesianistis, bisa menjadi kekuatan sosial yang mendorong ke arah tindakan-tindakan untuk mengubah situasi sehingga melahirkan gerakan sosial. Dengan Uga juga, sangat dipercaya bahwa perubahan sosial pasti akan terjadi sesuai dengan ramalan yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Uga dapat diinterpretasikan sesuai dengan tingkat kepercayaan orang yang menginterpretasikannya. Bagi orang tua, Uga bisa untuk melihat ‘tanda-tanda zaman’, meramalkan adanya perubahan sosial dan politik pada masa yang akan datang di lingkungan mereka sendiri. Dan Uga sangat berhubungan dengan masalah waktu, waktu di sini sangat relatif kejadiannya. Namun bila sesuatu telah terjadi sesuai dengan kenyataan, maka ungkapan geus nepi kana uga-na, geus nepi kana waktu nu ditujum ku karuhun. ‘sudah sampai pada waktunya, sudah tiba pada saatyang diramalkan oleh leluhur’ merupakan jawaban dari kejadian itu.

Oman Abdurahman dalam wawancaranya, menyatakan bahwa untuk memahami uga, kita dapat mempergunakannya dengan akal dan pengetahuan bukan dengan hal-hal yang bersifat mistis, walaupun masyarakat pada umumnya sangat mempercayai bahwa uga dapat dipahami lewat hal-hal yang mistis. Ia mencontohkan cara pengurainya berdasarkan arti dan makna kata yang tersurat di dalamnya, sehingga dapat dimengerti ke mana arah dan tujuannya uga yang dimaksud tersebut. Seperti adanya kalimat pajajaran anyar dapat diartikan bahwa dewasa ini merupakan perkembangan dan perubahan sosial dalam sistem pemerintahan otonomi daerah. Sementara Jakob Sumarjo, sangat mempermasalahkan bahasa yang dipergunakan dalam uga yang ada sekarang ini. Apakah bahasa tersebut asli atau tidak ? Karena dilihat dari kata-kata yang dipergunakannya merupakan kata-kata yang dapat dikategorikan kata-kata sekarang. Jadi kesimpulannya bahwa kata-kata yang dipergunakan dalam Uga Wangsit Siliwangi bukan merupakan kata-kata yang diucapkan atau disampaikan langsung oleh raja Sunda pada waktu itu. Terlepas dari itu semua, bagi Jakob Sumardjo, dalam menafsir Wangsit Siliwangi ada yang mempergunakan akal sehat dan logika yang dikaitkan dengan sejarah dan perkembangan jaman, bahkan ada pula yang menafsir dengan cara mistis.

2.1.1 Pengertian Uga

‘Uga’ dengan bentuk lainnya yang ada di seantero dunia, sudah ada sejak dahulu kala. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan-ungkapan baik itu dari ajaran agama, ataupun folklor yang ada di setiap bangsa. Dalam istilah agama Islam disebut dengan ‘nubuat’ yang mengandung ramalan ke depan.

Dalam Kamoes Basa Soenda, dikatakan bahwa Oega nya eta waktoe parobahan, babakoena parobahan kaajaan nagara atawa bangsa (Moen geus nepi ka oegana, tangtoe tanah oerang merdeka “Uga adalah waktu perubahan terutama perubahan keadaan negara atau bangsa (pabila sudah sampai kepada uganya, tentu tanah air kita merdeka”(Satjadibrata, 1948 :249). Sedangkan dalam Kamus Basa Sunda, yang disusun oleh Lembaga Basa & Sastra Sunda (1980 : 547) dikatakan bahwa uga berarti tujuan nu aya patalina jeung parobahan penting, babakuna parobahan kaayaan nagara atawa daerah; Geus nepi kana ugana, geus nepi kana waktuna nu ditujum ku karuhun ‘Suatu ramalan yang ada hubungannya dengan perubahan penting suatu negara atau daerah; Sudah sampai pada waktu yang ditetapkan nenek moyang’. KH. Hasan Mustafa (1890), dalam sebuah tulisannya memberikan pengertian uga yang lebih deskriptif bahwa:

“Basa uga ditelahkeunana kana omongan anu méré béja piayaeun naon-naon kangeunahan atawa bancang pakéwuh (kasusahan) di ahir, tapi lain anu bangsa lahir, saperti kana tangkal cau, jaga bakal jantungan. Ieu jelema jagana bakal diruang; tapi kapakéna uga mah kanu moal kapanggih, tapi ku pikiran tahayulan jelema tangtu kapangih, ngan teu nyaho di urang kénéh atawa ku anak incu. Nu matak ari aya nu rada sarupa jeung taksiran sok diaoromongkeun ‘geus tepi ka ugana’ atawa ‘samorong ceuk uga’

Ari conto-contona omongan baheula,

“Jaga mah, barudak, sajajalana disaungan”. Béh karéta api.

“Gancang carita béja, mun geus aya balabar kawat”. Béh telegram.

“Jaga mah, barudak, batu turun keusik naék”. Béh anak somah naék pangkat, anak ménak teu pangkat.

“Jaga mah, barudak, ngateuran ka nu digawé gé mawa kéjo dina iteuk, nandakeun angker gawé” Béh nu dagang di pagawéan.

Kitu deui kana cacandran nagara, jaga mah barudak, Bandung heurin ku tangtung /…/ Éta gé jadi omong geus tepi kana ugana. Jeung sajaba ti éta loba deui uga geus tepi jeung nu acan, nurutkeun tahayul pikiranana, nu jadi basa jangji kudu ngabukti, subaya kudu mangrupa. Malum perkara tahayul ti unggal ati, anu keur ngarep-ngarep kaanéhan. (Rosidi, 1989 :350-351)

Artinya :

“Kata Uga diartikan terhadap pembicaraan mengenai berita tentang sesuatu yang akan terjadi baik berita yang baik ataupun berita bencana di suatu waktu nanti. Uga tidak diartikan berita sesuatu yang nyata, seperti “pohon pisang nantinya berjantung” atau “Manusia nantinya akan dikubur” Tapi Uga diartikan terhadap hal yang bersifat abstrak, dengan pemikiran yang dipercayainya, maka uga akan dapat dimengerti dan dirasakan. Tapi apakah uga itu dapat dirasakan langsung atau nanti oleh anak cucu. Maka bila ada yang sama dengan tafsiran selalu disebutkan ‘sudah sampai pada waktunya’ atau ‘sesuai dengan/kata ramalan’

Contoh-contoh uga :

“Anak-anak, kelak di akhir jaman, sepanjang jalan dinaungi’ Muncul Kereta.

“Berita yang cepat, bila ada berita kawat” Muncul Telegram.

“Anak-anak, kelak di akhir jaman, batu turun, pasir naik” Terbukti, anak cacah memiliki pangkat / terpandang, dan anak menak tidak berpangkat.

“Anak-anak, kelak di akhir jaman, memberi makan orang yang kerja dengan cara membawa nasi dengan tongkat”. Muncul atau adanya pedagang yang datang ke tempat kerja.

Begitu pual dengan cacandran / uga mengenai perjalanan negara “Anak-anak, kelak di akhir jaman, Bandung sesak dengan ‘tangtung’ /…/” Hal tersebut sudah terbukti ‘geus nepi kana ugana’. Ada banyak uga yang sudah terbukti dan yang masih belum terbukti, menurut kepercayaannya bahwa ‘janji harus terbukti, harapan harus nampak’ maklum kepercayaan datang dari setiap hati, manusia yang sedang menunggu datangnya keunikan”

Uga merupakan suatu keniscayaan atau kepastian, hal tersebut dikarenakan dalam pengertian yang terungkap pada anak kalimat geus nepi kana ugana ‘sudah sampai pada saatnya’. Dalam pengertian anak kalimat di atas dapat dilihat bahwa kejadian yang diharapkan sudah nampak di depan mata dan dialami sesuai dengan apa-apa yang diramalkan. Kesimpulan pengertian yang diberikan oleh beberapa informan mengenai Uga, adalah “ramalan yang diberikan oleh karuhun, mengenai apa yang akan terjadi di kemudian hari”. Dalam buku Diktat untuk murid-murid SGB yang berjudul Kasusastraan Sunda, dikatakan bahwa uga disebut juga Tjatjandran nya eta tjarita karuhun nu ngagambarkeun kaajaan nagara djst., nu bakal kasorang, saperti tjatjandran Djajabaja, atawa di urang aya oge kolot-kolot baheula geus njarebutkeun Sumedang ngarangrangan, galunggung ngadeg tumenggung, Sukapura ngadaun ngora, Bandung heurin ku tangtung, Tjiandjur katalandjuran, Tjiamis amis ku maneh, Banagara sor ka tengah ’Uga disebut juga cacandran yaitu cerita nenek moyang yang menggambarkan keadaan negara dan sebagainya yang bakal dialami, seperti cacandran masyarakat Sunda menurut orang tua dahulu sudah menyatakan bahwa Sumedang ngarangrangan, galunggung ngadeg tumenggung, Sukapura ngadaun ngora, Bandung heurin ku tangtung, Tjiandjur kataladjuran, Tjiamis amis ku maneh, Banagara sor ka tengah.’

Istilah Uga bisa berasal dari kata ngayuga yang berarti membimbing atau duga ‘duga’. Dalam Kamoes Basa Soenda (1948 : 149) kata yoega berarti, naon-naon nu diwudjudkeun ‘apa-apa yang diwujudkan’; ngayoegakeun berarti ngawudjudkeun, ngalahirkeun orok djeung ngadjaga kasalamateanana ‘mewujudkan, melahirkan bayi dengan menjaga keselamatannya’. Dalam ungkapan tradisional Sunda dikenal adanya ungkapan yang menyatakan fungsi orang tua dengan frase Indung nu ngandung, bapa nu ngayuga ‘Ibu yang mengandung, Bapak yang membimbing dan menjaga keselamatannya’. Hubungan antara kata uga dan yuga, yaitu sama-sama mempunyai pengertian untuk membimbing dan menjaga keselamatan dari orang tua (karuhun) kepada ‘bayi’ dalam artian anak atau masyarakat. Dalam pengertian yang lebih luas bahwa uga merupakan suatu bimbingan dari karuhun kepada seuweu siwi ‘generasi yang akan datang’, karena dengan bimbingannya yang merupakan cecepengan ‘pedoman hidup’ manusia kini dapat hidup dengan selamat. Suria Saputra, memberi pengertian mengenai uga sebagai berikut : Istilah Uga bisa jadi asal muasalnya tina kecap ‘Yuga’ atawa ‘duga’. Di Jawa Tengah boh di Tatar Sundaremen disebut ‘ogan’ saperti ‘ogan lopian’ (gambar lopian), nya éta jimat milik Batara Kresna, nu hartina ‘ramalan’.[4]

Uga terlahir dari sebuah cara berfikir karuhun berdasarkan kausalitet ‘sebab akibat’ yang dilatarbelakangi pola hidup agraris tradisional, sehingga melahirkan manusia-manusia yang weruh sadurung winarah ‘tahu akan kejadian-kejadian yang akan datang’, karena manusianya sudah legok tapak genteng kadek ‘banyak pengalamannya’.

Berdasarkan pengertian di atas, bahwa uga merupakan suatu tujuman atau ramalan ‘prophecy’ yang menyangkut kehidupan sosial dan politik di kalangan orang-orang Sunda. Dalam pengertian uga, juga terkandung faktor ‘waktu’ yang sudah ditentukan oleh karuhun. Suwarsih Warnaen, mengatakan bahwa uga sebagai suatu ramalan, tentu akan menimbulkan banyak interpretasi terhadap kata-kata yang digunakannya. Bahkan tidak jarang kata-kata yang terkandung dalam uga diartikan banyak orang secara harfiah atau secara kongkrit. Hal itu menyangkut sejauh mana keyakinan orang terhadap kebenaran ramalan yang terkandung dalam uga itu. Keadaan ini dapat menimbulkan frustasi bagi orang-orang yang mempercayainya, karena yang ditunggu sesuai dengan interpretasinya terhadap ramalan yang terkandung dalam uga tidak kunjung datang. Namun demikian, bagi orang-orang yang mempercayai kebenaran uga itu, mempergunakannya sebagai ‘prophetic ideology’ dalam usaha memahami pertanda zaman. Sebagai suatu ramalan maka uga cenderung untuk membicarakan hal-hal yang bersifat duniawi. Oleh karena itu, uga lebih mencerminkan pandangan hidup manusia (1987 : 5-8).

Dari uraian itu, dapat ditarik satu kesimpulan mengenai pengertian dan makna uga. Dalam kehidupan masyarakat Sunda uga dapat berarti sebuah ramalan atau prediksi mengenai perubahan dalam kehidupan baik yang berhubungan perubahan secara fisik, perubahan politik, ekonomi maupun kehidupan sosial lainnya dengan jangkauan waktu yang pasti terjadi. Bagi masyarakat Sunda, uga dapat bermakna sebagai pedoman dan bimbingan dalam menentukan langkah untuk menyongsong perubahan yang akan terjadi. Uga merupakan tradisi lisan, biasanya diucapkan dalam bentuk simbolisasi, sehingga untuk memaknainya memerlukan interpretasi berdasarkan 5S (lima S, silib-sindir, suluk, siloka, dan simbul) agar bentuk-bentuk simbol yang diterimanya itu tidak melenceng jauh dalam arti yang sebenarnya.

2.1.2 Uga Bandung sebagai Tradisi Lisan

Menurut Suripan Sadi Hutomo (1991 :11) dan Yus Rusyana (2006: 8) tradisi lisan itu mencakup beberapa hal, yakni (1) yang berupa kesusastraan lisan, (2) yang berupa teknologi tradisional, (3) yang berupa pengetahuan ‘folk’ di luar pusat-pusat istana dan kota metropolitan, (4) yang berupa unsur-unsur religi dan kepercayaan ‘folk’ di luar batas formal agama-agama besar, (5) yang berupa kesenian ‘folk’ di luar pusat-pusat istana dan kota metropolitan, (6) yang berupa hukum adat. (dalam uraian Yus Rusyana, dikatakan bahwa untuk keadaan di Indonesia hukum adat dikeluarkan dari tradisi lisan sebab sudah merupakan bagian khusus dari ilmu hukum Indonesia (2006 : 8)). Tradisi lisan adalah cerita yang hidup secara lisan, tersebar dalam bentuk tidak tertulis, disampaikan dari bahasa mulut. Cerita lisan ini adalah bagian dari persediaan cerita yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat terutama dalam masyarakat tunaksara (Yus Rusyana, 1981 :1). Tradisi lisan merupakan bagian dari budaya dan sekaligus mencerminkan pula budaya keseluruhannya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa cerita selalu mengandung unsur-unsur kehidupan sosial budaya dan seperangkat nilai budaya yang unik dari masyarakatnya pada saat diciptakan.

Sastra lisan tidak mempunyai naskah. Jika sudah berbentuk tulisan naskah itu hanya merupakan cacatan yang tidak mungkin mencakup keseluruhan pernyataan sastra lisan itu, misalnya mengenai guna dan perilaku yang menyertainya (Yus Rusyana, 1981 :2) Walaupun demikian dari sastra lisan yang sudah direkam dapat kita tarik unsur-unsur yang pada akhirnya akan memperlihatkan makna secara keseluruhan dipandang dari aspek bahwa cerita itu merupakan karya sastra lisan.

Dengan demikian Uga Bandung adalah tradisi lisan masyarakat Sunda yang diperoleh dari penuturan orang Sunda sendiri yang berada di lingkungan Kota Bandung.

2.1.3 Uga Bandung dalam Kehidupan Sosial Budaya

Dalam kehidupan sekelompok etnik, di dalamnya terkandung berbagai atau sejumlah adat istiadat, kepercayaan, bahasa dan kebiasaan yang dilakukan dalam keseharian atau ciri lain sebagi bagian dari kebudayaannya. Semuanya itu merupakan warisan yang telah diterimanya sejak dahulu dan menjadi kebiasaan bagi generasi kini.

Begitu pula dengan Uga Bandung, merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat atau etnik Sunda, dan khususnya masyrakat di kota Bandung sebagai pendukungnya. Di dalam uga tersebut dapat dikenali kehidupan budaya masyarakat pendukungnya. Dengan kata lain bahwa untuk mempelajari suatu masyarakat antara lain kita dapat mempelajari tradisi lisan yang ada di dalamnya. Karena tradisi lisan dapat memberikan gambaran tentang masyarakat pendukungnya, maka tradisi lisan merupakan bagian dari sistem kebudayaan (Boas, 1935, Nimpuno, 1999: 61).

Uga atau cacandran yang meramalkan sesuatu akan terjadi di masa yang akan datang, dapat pula disebut ‘the bible of the folk’. Dengan demikian uga dapat dikatakan merupakan futurisme yang berbeda dengan futurologi ilmiah yang berdasarkan data statistik, pengamatan dan analisis yang menggunakan metodologi ilmiah. Sedangkan uga hanya disusun berdasarkan ilham, insting, penghayatan ‘kotemplasi’. Dengan kearifannya, karuhun mampu mengabstraksikan dan menggeneralisasikan putaran perjalanan hidup manusia sehingga melahirkan uga. Uga dalam bentuk kata-kata yang dihubungkan dengan tanda-tanda alam, baik secara simbolik atau perlambang atau dilisankan secara harfiah. Contoh uga perlambang adalah Uga Bandung, dinyatakan bahwa bangsa Indonesia baru bisa adil dan sejahtera bila Kawah Ratu (penguasa) bersatu dengan Kawah Upas (rakyat). Atau dengan kata lain bahwa para pemimpin bangsa sudah mau menerima aspirasi rakyat baru Indonesia makmur dan adil.

Ramalan yang menyebutkan bahwa uga itu berlaku tidak hanya bersifat lokalitas saja melainkan luas ke seluruh dunia. Disebutkan dalam sebuah uga yang tertulis dalam sebuah lembaran kusam (Naskah kertas Nederlander) yang berbahasa Sunda campur Melayu ditulis dengan aksara Arab Pegon tertera di sana Yén engké bakal karandapan hujan racun ! Kita lihat ramalan hujan racun itu terjadi di Negara-negara Eropa, Jepang, RRC, India, Kanada dan Amerika. Bahkan yang lebih mengenaskan yaitu ketika kejadian Chernobyl di Sovyet Rusia atau perang dengan menggunakan senjata biologi.

Uga dalam wujud pantun (cerita pantun), seperti Pantun Bogor : Paku Jajar di Lawang Gintung; Uga Lebak Cawene, Ronggeng Tujuh Kalasirna, Dadap Malang Sisi Cimandiri, Ngahiangna Pajajaran (Uga Wangsit Siliwangi), Ngadegna Pajajaran, Kujang Di Hanjuang Siang. Begitu pula Pantun-pantun yang berasal dari Aki Uyut Baju Rambeng dan Pantun Pa Cilong.

Uga dalam kakawihan barudak atau tembang barudak Sunda, seperti : Ayang-ayang Gung dan Prang pring Prang Pring Sabulu-bulu Gading atau Milang Bincurang.

Ayang-ayang Gung

Ayang-ayang gung, gung

Gung goongna ramé, mé

Ménak Ki Mas Tanu, nu

Nu jadi wadana, na

Naha maké kitu, tu

Tukang olo-olo, lo

Loba anu giruk, ruk

Ruket jeung kumpeni, ni

Niat jadi pangkat, kat

Katon kagoréngan, ngan

Ngantos Tuan Besar, sar

Sareng Kangjeng Dalem, lem

Lempa lempi lempong

Ngadu pipi jeung nu ompong

Jalan ka batawi ngemplong

Arti uga dari nyanyian atau kakawihan barudak di atas adalah kearifan karuhun yang disimbolkan yaitu ketidaksenangan rakyat terhadap pemimpim feodal, yang digambarkan oleh sikap Menak Ki Mas Tanu[5] yang menjadi bupati yang bersikap bunglon ‘tanu’ dan ber-KKN dengan kompeni karena ingin menjadi penguasa sehingga jalan menuju Batawi (Jakarta, pusat kekuasaan) mulus. Di sana ia bertemu dengan orang yang pikirannya kosong ‘Ngadu pipi jeung nu ompong’. Situasi dan kondisi saat ini pun kini masih berlaku, mau ber-KKN dan cepat naik pangkat ? Jadilah orang yang berwatak Ki Mas Tanu walaupun pikirannya kosong (mungkin gambaran sekarang bagi para anggota DPR).

Ramalan yang muncul dalam kakawihan barudak yang meramalkan akan lahir zaman di mana situasinya akan berubah, seperti kehidupan ekonomi dan religi masyarakat Sunda akan berubah terpengaruh oleh sistem ekonomi dan religi dari luar, yaitu :

Milang Bincurang

Prang …pring

Prang…pring

Saunda-unda perang

Nya perang di pangadegan

Turuni puyuh

Hayam tanah babarancang

Dikéncréng-kéncréng kucubung

Kucubung kuruwek dugel, muntel

Dalam bait kakawihan di atas, disebutkan saunda-unda perang, nya perang dipangadegan pada setiap aspek kehidupan terjadi perubahan, menuntut perubahan dalam prinsip atau pangadegan yang berasal dari kata adeg yang berarti sikap.

Kakawihan barudak dalam permainannya ada yang menunjukkan ramalan mengenai sebuah gambaran atau situasi yang tidak dapat diketahui arah dan tujuannya, akan tetapi meminta korban, yaitu permainan oray-orayan :

+ Oray-orayan

= Oray naon ?

+ Oray bungka

= Bungka naon ?

+ Bungka laut

= Laut naon ?

+ Laut dipa

= Dipa naon ?

+ Di pandeuri ….ri.ri…ri.ri[6]

Nyanyian yang lahir dalam situasi yang gawat, sebagai sebuah simbol agar musuh tidak mengerti, yaitu :

Ja leuleu ja,

tulak tuh ja éman gog

Seureuh leuweung bay[7]

Nyanyian orang dewasa yang biasa dinyanyikan dalam sebuah sisindiran, lahir pada jaman tanam paksa Belanda, penanaman kopi di Bandung, yaitu :

Dengkleung déngdék

Buah kopi raranggeuyan

Ingkeun anu déwék

Ulah pati diheureuyan

Pada masa itu kopi menjadi komoditi masyarakat di Jawa Barat yang tak lepas dari kehidupan kesehariannya. Sehingga kopi, tidak saja menjadi kalangenan ‘kebiasaan’ untuk minum, melainkan kopi juga, menjadi kebiasaan dalam segala bentuk acara makan makanan ringan. Kata ngopi yang dalam arti sebenarnya adalah minum kopi, menjadi acara makan makanan ringan, yang diminum bukan kopi melainkan teh, atau makan penganan. “Geus ngopi ?” atau “Urang ngopi, yu !” Sebuah pertanyaan dan ajakan untuk makan atau sekedar makan makanan ringan.

Kakawihan barudak yang lahir pada waktu masyarakat sedang dalam keadaan susah dan timbul rumor banyaknya orang yang kaya mendadak, karena nyegik atau munjung :

Ambil-ambilan turuktuk hayam samantu

Saha anu diambil kami mah teu boga incu

boga gé anak minantu

Nani-Nani (atau siapa saja nama salah seorang anak peserta permainan ini dipanggil) ka dieu,

Purah nutu, purah ngéjo

Purah ngasakan baligo

Nyerieun sukuna, kacugak ku kaliagé

Aya ubarna, urat gunting campuragé

Tiguling nyocolan dagé

Maling endog … maling endog… !

Bandung sebagai kota pendidikan dengan munculnya Sakola Raja (di Jalan Merdeka, Polwiltabes Sekarang), para orang tua di seluruh pelosok (Jawa Barat) selalu menginginkan semua anaknya menjadi orang-orang terdidik, terhormat dan mampu berterima kasih kepada orang tua. Mereka berharap agar anaknya pergi dan datang ke Kota Bandung untuk menuntut ilmu maka lahirlah nyanyian :

Néléngnéngkung néléngnéngkung

Geura gedé geura jangkung

Geura sakola di Bandung

Geura makayakeun indung

Situasi dan kondisi kehidupan secara global pun tidak luput dari perhatian karuhun Sunda, karena semua merupakan fenomena alam yang sangat disadari oleh karuhun dan menjadi peringatan yang harus diperhatikan oleh anak cucu atau generasi mendatang. Jaman edan seperti saat ini telah diperingtakan agar anak cucu berhati-hati dalam menghadapinya. Wangsit dari Raja Pajajaran yang ada di Kabuyutan Galunggung, menyebutkan bakal terjadi jaman edan dan situasi yang tidak terkendali. Di antara wangsit yang terungkap adalah :

/…/

Budak teu ngawaro jeung teu heman ka kolot;

murid teu tuhu ka guru;

Raja sabuana salah pamakéna;

Pandita salah pamakéna;

Panghulu salah pamakéna;

antukna patulak tawur tanpa wastu ilang buana /…/

[“Uga” Seri III, Baranangsiang No. 4 Tahun 1967]

Pepatah petitih dahulu mengingatkan bahwa pribadi atau lembaga harus dihargai : Guru wong atua karo, artinya tatanan masyarakat akan berlangsung baik apabila generasi muda hormat dan taat dan menghargai gurunya, pemerintah adil dan agung wibawa, serta para ulama arif bijaksana. Tapi kenyataannya semua kacau tanpa wastu “martabat” dan kenyataannya nampak seperti sekarang. Kekacauan ini pun terus berlangsung, sehingga Karuhun Sunda dengan kearifan melihat kota–kota di Jawa Barat akan berkembang seperti apa yang dilihat melalui mata bathinnya yang disusun dalam Uga Bandung, yaitu :

Bandung heurin ku tangtung

Cianjur katalanjuran

Sukabumi tinggal resmi

Sumedang Ngarangrangan

Sukapura ngadaun ngora

Galunggung ngadeg tumenggung

Garut jadi pangirut

Kenyataan itu kini sudah terjadi, misalnya Kota Bandung yang menjadi sebuah kota metropolitan, sudah heurin ku tangtung, PKL di mana-mana susah untuk diantisipasinya, gedung-gedung mall di mana-mana, keinginan dan kehendak yang saling tumpang tindih nampak di kota Bandung ini. Kota Cianjur, perkembangannya kini hanya sebagai kota yang hanya dilewati. Kota Sukabumi tinggal sebuah nama saja, ibukotanya akan pindah ke Pelabuhanratu. Hal tersebut terjai karena sudah ada rencana akan mengembangkan kotanya menjadi kota pariwisata dan ibukota akan berpindah ke daerah pesisir. Kota Sumedang, kini hanya sebuah kota pensiunan, ramainya pindah ke Jatinangor. Garut ? Nah, ini dia Sukapura akan ngadaun ngora, hal itu pun terbukti kini Tasikmalaya sedang berbenah untuk menjadi sebuah kota yang megah dengan pembangunan di sana-sini. Galunggung Ngadeg Tumenggung ? Kini sudah terbukti, ibukota kabupaten berdiri di Kota Singaparna yang berada di suku Gunung Galunggung.

Begitu pula dengan Uga Cilauteureun yang tersebar di daerah Garut, yaitu sebuah uga yang memperingatkan kepada anak cucu atau generasi sekarang, bahwa jaman edan akan berlangsung, di antaranya uga itu menyatakan :

Uga cicirén kaasih ti kolot urang baheula,

tanda kamelang haté,

bisi seuweu siwi Sunda,

kagoda milu édan jeung jalma nu baragajul,

lolong kana pajamanan

Makmak-mekmek hayang sugih,

loba dunya luhur pangkat,

ka batur teu inggis néjéh,

najan kudu ngahianat,

asal laksana tékad,

lir kokoro manggih Mulud,

poho kana bebeneran

Dalam situasi jaman edan itu, uga lain menyatakan :

Nagara ilang komara,

rahayat pinanggih lara,

sagala kias teu mental,

sakabéh pamingpin bingung

Semua itu memang benar adanya dan terbukti sesuai dengan kata-kata karuhun tadi, banyak orang yang ingin naik pangkat dan terpakai oleh atasan dengan cara menghianati terhadap tujuan pokoknya. Dan akibatnya rakyat jadi korban.

Ungkapan tradisional Sunda yang merupakan kalimat pendek yang disarikan dari pengalaman panjang dari sebuah komunitas. Karuhun kita membuat ungkapannya itu menyimpan makna yang dalam yang semuanya lahir karena pengalamannya, baik pengalaman yang manis, pahit, mengenaskan atau pengalaman spiritual.

Uga Wangsit Siliwangi, ketika Prabu Siliwangi akan ngahiyang ‘mangkat’, beliau memberikan wejangan : “Wahai rakyatku, barang siapa yang mau menjadi orang yang berpangkat pergilah ke timur. Barang siapa mau menjadi orang yang mau ngabarata atau suci hati, pergilah ke barat, barang siapa mau menjadi pesuruh orang yang datang dari timur, pergilah ke utara, dan barang siapa mau menjadi orang yang sengsara tapi sejati dalam “Sunda” tapi menderita seperti saya, ikutlah ke kidul ’selatan’ bersama saya. Dari wangsit itulah muncul sindiran kepada orang Sunda yang benar-benar mempertahankan prinsip kasundaannya. Sindiran itu muncul dalam peribahasa Asa aing uyah kidul. Uyah ‘garam’ berarti sari atau inti; kidul ‘selatan’ tempat orang-orang yang ikut bersama Prabu Siliwangi.

Simbol yang dilambangkan dengan warna, di Banten dapat dilihat dari benang pengikat rokok (tali rokok daun kawung) dipergunakan sebagai tanda “ungkapan rasa” dari si pengirim kepada orang yang dikirim, seperti rokok mole ‘rokok tembakau yang digulung dengan daun kawung ‘enau’’ kemudian diikat dengan benang yang berwarna:

warna héjo ‘hijau’ = hayang paténjo;

warna hideung ‘hitam’ = Nineung;

warna bodas ‘putih’ = putih bersih;

warna beureum ‘merah’ = ngajak eureun, pegat kasuka;

warna paul ‘biru langit’ = hayang disusul;

warna biru ‘biru’ = milu;

warna wungu‘violet/bungur’ = ditunggu;

warna hawuk ‘abu-abu’ = ngundang datang;

warna gading ‘krem’ = ngabejaan gering;

warna koneng ‘kuning’ = keuheul.

Simbol-simbol seperti itu pun dewasa ini sering dianalogikan kepada kejadian-kejadian alam, baik politik, ataupun segala aspek kehidupan manusia. Sebelum Presiden Megawati Soekarnoputri naik menjadi Presiden Indonesia, jauh sebelumnya muncul gejala di masyarakat, orang-orang membuat cincin dari uang logam kuningan Rp. 100,00 Gejala alam tersebut menunjukkan bahwa presiden Indonesia nanti adalah perempuan, karena cincin dianalogikan sebagai perempuan. Begitu pula ketika Susilo Bambang Yudoyono atau lebih kita kenal dengan sebutan SBY (Baca dalam bahasa Sunda : és beyé ‘es yang masih cair’). Gejalanya muncul ketika dalam setiap perayaan tujuhbelas agustusan, di setiap pelosok kampung banyak atribut air yang berwarna warni dalam kantong plastik (seperti es bungkus yang harganya Rp. 100-an) digantungkan di atas pohon kering dan menjadi hiasan untuk meramaikan pesta rakyat tersebut. Maka dari situlah gejala alam dibaca oleh masyarakat bahwa SBY naik menjadi presiden. Tapi dia hanya sebagai orang yang mampu “meramaikan dengan warna-warninya” dan hanya sebagai hiasan belaka. Kita lihat gejala di atas, SBY menyusun kabinet dengan sebutan Kabinet Indonesia Bersatu, karena melihat keanekawarnaannya dari berbagai parpol.

Dinamika budaya dewasa ini dapat kita lihat dari berbagai aspek kehidupan masyarakat yang sedang mengalami perubahan terus menerus menjadikan anggota dari setiap masyarakat mencoba untuk mengungkapkan “rasa” melalui verbal yang sesuai dengan pengetahuannya. Ungkapan verbal biasanya terlontar berdasarkan gejala yang timbul di lingkungannya. Budaya Sunda pun tidak statis melainkan sangat dinamis, hal itu terlihat dari ungkapan yang menyatakan bahwa manusia Sunda harus mampu menyesuaikan arus kehidupan dan perubahan jaman tanpa meninggalkan budayanya sendiri : Ngindung ka waktu ngabapa ka jaman atau ngigelan jaman jeung ngigelkeun jaman.

Bila sejarah merupakan sebuah gambaran tentang pengalaman kolektif atau individual di masa lampau, maka folklor pun harus seperti itu. Perbedaannya sejarah disusun atau direkonstruksi berdasarkan kaidah-kaidah tertentu, namun folklor tidak dibakukan dan hanya disampaikan secara oral, jenis realita tidak disesuaikan dengan fakta historis. Folklor harus dilihat sebagai endapan memori rakyat tetapi potensial menjadi sumber sejarah dan di samping itu folklor dapat menjadi sebuah fenomena kebudayaan.

[1] Harian Umum Pikiran Rakyat, Sabtu 14 Oktober 2006

[2] Mingguan berbahasa Sunda Galura, Minggu 1 Nopember 2007

[3] Mingguan berbahasa Sunda Kudjang, Jumat, 24 Juli 1981, ditulis oleh A.K. Djajasoepena.

[4] Suria Saputra “UGA” dalam Majalah Baranangsiang No. 2 taun 1967.

[5] MA. Salmun (1972), Majalah Intisari, menulis bahwa Mas Tanu itu adalah Tanujiwa, orang Sumedang yang mendapat perintah dari Campuijs ‘Belanda’ untuk membuka hutan Pajajaran dan mendirikan Kampung Baru di Bogor dan Jatinegara. Dengan kedekatannya dengan VOC di Batavia, ia berhasil menjadi Bupati Bogor pertama (1689-1705), namun pada akhirnya memberontak dan dibuang ke Tanjung Harapan Afrika. (Sejarah Bogor tidak pernah mencatat Tanujiwa sebagai Bupati, dalam Danasasmita, 1983: 84)

[6] permainannya, sejumlah anak-anak berjajar saling memegang pundak anak yang didepannya, mereka menyanyikan kakawihan tersebut, dan ada dua orang anak berdiri dan berpegangan tangan membentuk sebuah terowongan, ketika kata-kata ri….ri… diucapkan maka anak yang paling akhir ditangkap oleh dua anak yang berpegangan tangan

[7] Ketika orang Priangan mengintip pasukan Mataram di jalan yang akan dilewatinya, orang yang berjaga di garis depan melihatnya kemudian memberi tanda dengan nyanyian. Ja berarti pasukan Jawa atau pasukan Mataram, tulak tuh ja eman berarti siap-siap beri perlawanan

Sumber : http://sundasamanggaran.blogspot.com/2009/12/u-g.html?m=1