Jumat, 17 Januari 2020

LINGGASANA HAKSARA

By Deden Heryana

Linggasananing Haksara dari Sumedang yang berguna untuk membaca tulisan dalam prasasti dalam Batu atau Lontar. Aksara ini adalah termasuk dalam 33 pasal Kasumedangan.


Haksara Kamanusaan
Aksara Kamanusaan dari Sumedang ini, mengisyahkan Asal-usul Manusia yaitu dari Nabi Adam dan Sri Hawa.

Minggu, 15 Desember 2019

KUMPULAN SAHADAT CIREBON

By Deden Heryana

Sahadat Sampurna
================
Sare’at mulya kang kagungan sare’at,
hakekat mulya kang kagungan hakekat,
mar’rifat suci mulya kang kagungan suci,
rasa mulya kang kagungan rasa,
rasa sampurna muling sing dunya,
mukmin sing kawitan,

Allooh anu mulih,
Muhammad anu masihan rasa,
rasa sari sarira wangi,
metu roh idlofi sarupa lawang dzatullah,

sir rasa ganda rasa,
ganda rasa metu rasa,
kari rasa rasa sejati,
mulya rasa ning sampurna,
sampurna mulih sing dunya,
ilang rupa ilmu mulya,
agama mulus sujud ka dzatullooh,

wiyat sukma jati sukma Allooh,
sari dzatullah suwarga,
dzat sampurna ka sawarga,
sari rasa dzat sampurna ning dzat,
laa ilaaha illallah muhammadur rosulullooh.

Telu roh idlofi kanyataan sifatullah kang anama ketel putih,
rasa kanyataan dzatullah kang anama putih,
les putih kumpuling badan kalawan nyawa,
namaning putih ratna mulya jati,

sir eling sajatining urip,
sajatining Allah sajatining rasa,
iya urip sajatining Allooh sajatining manusa,
ules putih araning nyawa,
ules lereng badan Allooh kagebed putih,
iya nagara sampura cahya sang udel putih,
mulya anu langgeng jaya sampura,
iya tajalli Allooh,

sahadat sare’ate saadege salungguhe sholu Allooh,
laa ilaaha illallah muhammadur rosulullooh,
Alloohumma roh badan roh nyawa,
sahadat pangleburan,
sahadat sakeling wekasan,
salira naraka kaping pitu jadi suwarga sabda Allooh,
junjunan derajatullooh,
junjunan derajat sajabing baja,
salamet umat nabi Muhammad,
ya wali ya wali birohmatika ya arhamar rohimin.


Sahadat Pancer (Sahadat Majmal)
============================
Bismillahi Allah kang Maha Agung,
Allah kang Maha Luhur,
Allah kang Maha Suci,
Qulhuallahu ahad, Allahus shomad,
lam yalid walam yulad,
walam yakulahu kufuan ahad,
ya Sayidina Imam Pengeran Muhammad Shohibulahsan angkis dinillah,
ya Allah ya Ahad ya Shomad,
ya Hu Allah ya Hu rasa mulya,
ya Allah sifat ingsun ya Allah rupa ingsun,
ya Allah pengeran ingsun,

rasa tunggal ya Hu haq,
Allahumma taqobbal du’aa,
dzat sare’at dzat tarekat dzat hakekat zat ma’rifat,
dzat kesuciyane manusa,
dzat kamulyaane manusa,
Allahuma sir sidayidana dzat agung,
dzat kaluhurane Adam,
ya Hadi ya Wali ya Hu sahadat majmal,
sapa arane jujuluk mandarapi,
sarawuhe Gusti Rosulullah saw,
datenge sahadat kang dadi pancere urip,
urip pangandikane Allah,
laa ilaha illallah muhammadurrosulullah.


Sahadat Sampurna
================
Sir gumilang, rat gumilang,
sampurnaning af’al,
ratnaning sifat,
ganda rasa sukma mulya,
badanku keri sampurna.

Allooh kang ngajiyad,
Allooh kang kersa ngajiyad,
ngajiyad kersaning Allooh,
kersaning Pangeran,
banyu kang urip sampurnaning dzat,
sampurnaning sifat,
Allohuma wujud suci badan sampurna.

Alloohuma badan suci bagus ati,
tinggi sukma mujarab madep maring Allooh,
Alloohuma watu turu goibing Allooh,
roh madep maring cahyaning Allah,
laailaha illallooh muhammadur rosulullah,
sukma lara sukma lari sukma mulih tan kena keri,
sa elah kentaling rasa dzat les.


Sahadat Jeneng
=============
Ashadu sahadat jeneng,
kang jumeneng kelawan isun,
jisim kang sholat,
sholat sajeroning jisim,
madep ning dzatullah,
masup ning sifatullah,
ya hu iman, hu suci badan sampurna.


Sahadat Insan Kamil
=================
ALLAHU AKBAR,
KUN FAYAKUN, KUN FAYAKUN, KUN FAYAKUN,
SUBHANALLAH, SUBHANALLAH, SUBHANALLAH,

SIR INGSUN BAITULLAH,
ATI INGSUN MARING ALLAH,
JEJANTUNG INGSUN MARING NUR MUHAMMAD,
GETIH INGSUN ROHMAN ROHIM,

BADAN INGSUN INSAN KAMIL,
I’TIQOD SUCI BADAN SAMPURNA.

PENGUCAP INGSUN KALAMULLAH,
TURU INGSUN KERSANA ALLAH,
MADEP INGSUN ING MAHA SUCI KULA NYUWUN . . . .  (sebutkan anda),
LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALIYIL ‘ADHIM.

Kamis, 12 Desember 2019

PANCANITI : OPAT KALIMA PANCER

By Deden Heryana
Dalam perjalanan kehidupan yang sesungguhnya, manusia mengalami dan menemukan kembali 5 tahapan kehidupan, yang selalu dijadikan simbol ajaran kesempurnaan. 

Dalam keilmuan Sunda Besar atau Buana di bagi menjadi lima tahapan, yaitu :


1.  Buana Larang atau alam lahir atau jagat semesta.
2. Buana Panca Tengah atau alam kehidupan atau (rasa)
3. Buana Nyuncung atau alam Ruh atau Hirup.
4. Buana Kahyangan atau alam akal budi atau rasa (Buana Parahyangan ~ ilmu, amal, akhak)
5. Buana Agung adalah sebuah istilah untuk memaknai Yang Maha Mutlak atau disebut Pancer. 

Hal ini ditemukan dalam kebudayaan Sunda Lama yaitu : "Papat Kalima Pancer", dalam tata Negara yang menunjuk pada :
1. Jawa Dwipa
2. Waruna Dwipa
3. Swarna Dwipa
4. Simhala Dwiwa
5. Parahyangan sebagai Pancer. 

Dalam ajaran ilmu fisik dan metafisik atau sering disebut juga "Kejawen" atau "Tata Salira", sering ditemukan istilah :


 
1. Hadi yang bersifat abstrak atau tidak terlihat.
2. Wadi atau Hawa bersifat abstrak atau tidak terihat.
3. Madi atau Rasa bersifat abstrak atau tidak terlihat.
4. Mani atau Wujud, bersifat nyata atau terlihat.
5. Maningkem atau kang Ari tali ari-ari sebagai Pancer.

Menurut Syekh Siti Jenar :
“Sajati jatining ngelmu Lungguhe cipta pribadi Pustining pangestinira Gineleng dadya sawiji, Wijaning ngelmu dyatmika Neng kahanan ening-ening”
Hakikat ilmu yang sejati letaknya pada cipta pribadi maksud dan tujuannya, disatukan adanya, lahirnya ilmu unggul, dalam keadaan hening-seheningnya - Serat Siti Jenar.
Dalam paradigma filsafat ilmu, definisi dari ilmu adalah pengetahuan yang telah diproses sedemikian rupa menggunakan metode, sistematisasi, memiliki obyek forma/sudut tinjau (point of view) dll. Metode ilmu berbeda-beda. Tergantung pada obyek material/materi yang diteliti. Namun, ilmu dalam pemahaman kalangan spiritualis biasanya dipahami lebih kompleks dari itu. Ilmu tidak hanya pengetahuan yang telah diproses dengan metode, sietematisasi, obyek dll, melainkan lebih luas. Meliputi wilayah ilmu sebagai teori dan juga praktik sebagai sarana untuk manembah ke diri pribadi yang merupakan pengejawantahan dirinya Gusti Inkang Akaryo Jagad.

Syekh Siti Jenar juga menghayati ilmu seperti pemahaman ini. Terwujudnya ilmu/ngelmu karena ada usaha dan aspek tindakan nyata dari teori. (Ngelmu iku kalakone kanthi laku) Untuk mendapatkan ngelmu, Syekh Siti Jenar mensyaratkan adanya perjuangan yang berat, sungguh-sungguh, teliti dan sabar. Bahkan ada syarat khusus yaitu pelaku ngelmu tersebut harus dapat mengerem/mengendalikan hawa nafsunya. Ilmu yang dicari oleh Syekh Siti Jenar adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang harus dihayati dan memberikan kemanfaatan hidup di dunia dan di akhirat. Jadi ilmu harus memiliki dimensi pragmatis/kemanfaatan/kegunaan yang besar.

Teori itu penting namun lebih penting lagi adalah mampu mempraktikkan ilmu tersebut untuk kemanfaatan sasama makhluk Tuhan. Ibarat insinyur, teori membangun gedung itu penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana insinyur tersebut mampu mengaplikasikan teori tersebut untuk membangun gedung. Syekh Siti Jenar membimbing orang untuk mampu mengetahui ilmu dari Gusti Yang Maha Tunggal dengan mengetahui kenyataan ini adalah sebuah perwujudan kodrat-Nya. Siapa yang mampu memiliki ilmu ini? Tidak lain pribadi yang tahu, paham dan mempraktekkan kodrat, iradat dan ilmunya.

Ilmu yang sebenarnya/ilmu sejati menurut Siti Jenar berada di dalam cipta pribadi. Ide dan kreasi yang lahir dari dalam diri sendiri. Yang adanya di dalam diri yang paling dalam. Biasanya, kita mengetahui sesuatu itu berasal dari luar, melalui indera/pengalaman indera dan melalui pengajaran-pengajaran dari orang lain/guru/dosen. Namun, kata Syekh Siti Jenar, ilmu sejati yang memberi pengajaran adalah DIRI SEJATI. 

Diri Sejati itu berada di dalam lapisan diri yang paling dalam. Maka, pengetahuan tentang ilmu sejati, menurut Syekh Siti Jenar, hanya bisa ditemukan melalui ketajaman batin yang sumbernya dari hening dan sepinya diri. Sebab ilmu sejati memang adanya di kedalaman kesadaran manusia yang paling dalam.

Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sepi ing pamrih rame ing gawe. Bebas dari nafsu dan ego pribadi apapun juga. Batin benar-benar menyatu dalam irama keheningan samadi. 

Hati dan pikiran tertuju pada fokus : Hu Allah! Itu saja, sehingga tidak ada konflik batin karena semuanya hakikatnya SATU. Susah-senang, baik-buruk, benar-salah, hitam-putih semuanya sumbernya satu dan tidak saling mengalahkan. Semuanya bisa diresapi dalam diamnya pribadi kita untuk selalu menyatu dengan pribadi-Nya. 

Sedulur papat limo pancer : Empat saudara yaitu ketuban, ari-ari, tali pusat dan darah yang menyertai kelahiran bayi ke alam dunia. Keempat saudara itu secara simbolik akan mati dan bersifat sementara, tinggal Pancernya — Ruh — Pribadi yang hidup. Pancer yang berupa ruh itulah DIRI PRIBADI MANUSIA.

Kekuatan yang sangat besar yang ada pada manusia antara lain karena keterlibatan Malaikat Langit yang diturunkan oleh Allah ta’ala untuk membantu manusia sebagai kalifah di Bumi. Oleh tradisi kejawen hal ini disebut Makdum Sarpin atau yang terkenal dengan Ilmu Sedulur Papat Kalimo Pancer. Dasar dari pemahaman ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an sebagai berikut :

1. QS 13 : Ar ra’d : 11“Lahu mu’aqqibaatun min bayni yadayhi wamin khalfihi yahfazhu–unahu min amri allaahi inna allaaha laa yughayyiru maa biqawmin hattaa yughayyiruu maa bi-anfusihim wa-idzaa araada allaahu biqawmin suuan falaa maradda lahu wamaa lahum min duunihi min waalin”.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

3. QS 6 : Al Anaam:61 : 
“wahuwa alqaahiru fawqa ‘ibaadihi wayursilu ‘alaykum hafazhatan hattaa idzaa jaa-a ahadakumu almawtu tawaffat-hu rusulunaa wahum laa yufarrithuuna”.
 
Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.

Sedulur alus yang tidak berbadan fisik itu menurut kepercayaan tradisional Jawa selalu membantu saudaranya yang manusia dengan jalan menyertai, melindungi, memantu supaya saudaranya yang manusia menjalani kehidupannya dengan selamat, sehat, sejahtera selama hidup dibumi ini. Tugas sedulur alus tersebut sesuai dengan paugeran ketentuan dari Gusti. Saudara halus itu jumlahnya banyak, mari kita coba mengenali mereka :


1. KAKANG KAWAH  : Kakang Kawah, yang keluar dari rahim ibu, sebelum si bayi. Warnanya PUTIH, tempatnya di KANAN dilambangkan sebagai MALAIKAT JIBRIL. bertugas membawa wahyu/berita, Sebagai pembawa ilmu pengetahuan, karena dengan ILMU, manusia dapat sejahtera hidupnya, dan terhindar dari kebodohan yang membuat dirinya menderita. 
Maka orang yang bermaqom MALAIKAT JIBRIL biasanya cerdas mempunyai ilmu laduni, dan doa-doanya biasanya makbul dll.

2. GETIH : Darah yang keluar dari rahim ibu sewaktu melahirkan. Darah merupakan transpotasi sari-sari makanan ke seluruh tubuh, sehingga seluruh sel-sel dapat hidup. Warnanya MERAH, tempatnya di KIRI, dilambangkan sebagai MALAIKAT MIKAIL, bertugas sebagai pembawa rezeki.  
Maka orang yang bermaqom MALAIKAT MIKAIL kehidupanya berkecukupan dan mudah memperoleh hal rezeki apapun dan doanya makbul dll.

3. TALI ARI-ARI (TALI PUSAR) :  yang dipotong sesudah kelahiran bayi. Warnanya HITAM, tempatnya di DEPAN. Dilambangkan sebagai MALAIKAT ISROFIL, bertugas meniup terompet dihari kiamat. 
Maka orang yang bermaqom MALAIKAT ISROFIL berwibawa dan mempunyai kemampuan menundukan semua makhluk, doanya makbul dll.

4. ARI-ARI (BALI) : Adik ari-ari, yang keluar dari rahim ibu, sesudah si bayi. Warnanya KUNING, tempatnya di BELAKANG. Dilambangkan sebagai MALAIKAT IZROIL. Maka orang bermaqom MALAIKAT IZROIL memiliki kekuasaan tinggi, berwibawa dan mempunyai kemampuan menundukan semua makhluk, doanya makbul dll.

LEMAH SAGANDU SUNDALAND

By Deden Heryana

Leman Sagandu mempunyai konotasi yang luas yaitu Sundaland atau Nusantara (Nuh-Santara) atau Nusa Jawa (Nuh-Sa Jawa/ Pulo Sapi).


Saur Sepuh baheula-baheula deui sundaland ieu dunya jadi lautan, dina waktu jaman nabi Enoh sadayana pramu-pramunggu tanah sunda naraek ka Gunung, diantara Gunung Cakrabuana.

Saparantosn saat tinu banjir tanah sunda jadi pulo-pulo nyaeta jadi Nusa Jawa/NuhSantara. Nusa Jawa/Nuh Santara jadi dua bagian nyaeta :

Tanah Pasundaan watesna kali serayu - kali pamali Tanah Jawa, Pulo Harepan nyaeta Sumatra, Kalimantan (Borneo), Sulawesi, Maluku, Irian, Timor, Flores, Lombok, Bali, Madura, Ambon, Sumbawa jeung pulo-pulo nu laleutik, malah malaka (malaysia) ngahiji oge.

Kacarioskeun saparantosna ka keueum ku pulo Jawa Kosong, anu aya jalma ditengah-tengah Pagunungan kitu oge teu loba, anu aya tinggal bangsa siluman-sileumin jeung sato-sato nu garalak. (Tinu cutatan wawacan sunda ti Darmaraja).

Tinu Buku Rucatan Darmaraja anu turun tinurun kacaritakeun kieu ; 

Mangsa pulo jawa ngahiji aya tiluan sadulur katurunan Nabi Nuh wastana Purbawisesa, Terahwisesa jeung Ratu Galuh daratang ka wewengkon tegalan buleud dikurilingan pasir-pasir jeung pagunungan, wujud alam lir ibarat buleud gula kawung, ku alatan kitu disebut lemah sagandu. Di dinya pisan pisan nu tiluan ngareureuhkeun kacape, lantaran badaratna ti nagri Hindustan asruk-asrukan parat nepi kadinya welasan taun.

Pangna nu tiluan asruk-asrukan lantaran diparentah ku guruna kudu nyaruakeun gambar jeung alam, sarta kudu neangan batu bodas pasagi opat. Ceuk Guruna gambar leuwih gede batan alam, atawa leuwih heureut ti batan gambar. Gusti ngadamel ciciptaan dina wujud batu hideung jeung batu bodas. Batu Hideung katimu di Mekah, sedengkeun Batu Bodas lebeng teu kapanggih.

Arinyana asruk-asrukan neangan batu bodas bari nyaruakeun gambar jeung Alamna. Tetep kayakinana alam leuwih lega ti batan gambar, najan sanajan guntreng jeung hatena lebeng ku jawaban, pamuntanganana nu tiluan kateuhak ku ka keuheul. Ceuk pikir Purbawisesa, guruna ngalejokeun sirikna nitah sangsara. Beda jeung pamanggih Ratu Galuh keur dirina lunta ti Negeri Hindustan parat nepi ka wewengkon Lemah Sagandu leubeut ku pangalaman.

Tegesna kapeurih sangkan jadi peurah pikeun ngudag ambahan hirup.

Pangalaman nu ka sorang mukakeun, jandela hate jeung pikiranana, ngudag nu can katimu, nu can nyata kalayan mesek siloka nu diajarkeun ku guruna. Alam ibarat lambaran buku, mangsina laut, jajadiannana silib tulisan. Gambar alam mertelakeun kahayang manusa tegesna leuwih lega ti batan alam. Buah pikiranna dilisankeun kanu duaan kalayan daria.

Purbawisesa ngalahir, "ngalebahan kecap ki adi kacida jerona, watek nganteur ingetan kana pituduh guru, yen alam teh jajadian Pangeran, watekan bisa digambar ku manusa. Tapi kudu kumaha nyaruakeunana?.  

Gasik Ratu Galuh ngajawab, :"ceuk panempo lahir mah yakin alam leuwih lega tibatan gambar, sabab alam bisa digambar dina kulit sato atawa daun lontar, tapi ceuk panempo hakiki bisa lega gambar ti batan alam, sakumaha sabda guru. Saupama kayakinan geus ngahiji dina HATE, bakal surti kana siloka", tembalna teteg pisan.

Nu gunem catur jempe lir gaang katincak, pada-pada silih jugjugan HATE. Dina kaayaan kitu ngajenggelek Resi kasep ngalempereng koneng, nu tiluan ting raranjug awahing kaget, jedog aweh salam. 

Purbawisesa nyarios, "Neda agung cukup lumur, neda hapunten nu diteda, jisim abdi seja tumaros, dupi salira teh saha, upami bade angkat, angkat kamana?" 

Resi ngawaler bari seuri mesem, tuluy nyabda "sanajan hidep sewang-sewangan, sabab lamun rea nu can apal kudu ngaji nu geus apa, lamun can nyaho kana hiji perkara-perkara anu geus nyaho. Lamun hayang nyaho nu poek kudu cicing dinu caang, lamun hayang nyaho anu caang, kudu cicing dinu poek. Supaya aranjeun bisa mesek siloka prak geura tapa di dieu". 


Insun Sunda Linggahyang Ageman Medal, Ajaran Gunung, Gumulungna Diri jeung Alamna Da aya NU BOGANA NU MAHA A-HU-ng


Resi Agung ilang lebih tampa karana, nu tiluan olohok mata simeuteun. Tuluy medal sila badarat neangan tempat nu payus keur tapa.  (Buku Rucatan Budaya Darmaraja)

Haji Saka eta namana, ayeuna urang ganti catur, Haji Purbawisesa anu urang kocap, gawena pulang anting, kahareup sareng katukang, bulak-balik gawe na teh, ka hareup ngawejang elmu ngaran wetan anu kasebut, malik deui eta majuna. Ka katuhu deui majuna, ngitung balung larawat ngaji nu bakal diaosna dingaranan nama kidul, malik deui eta ngaosna. Katukang ngawejang elmu, didinya muka ogan, sareng deui didinya ngaos, sareng bari nulis lontar, jang bakal alam padang, harita jagat masih sagara.

Haji Purbawisesa tunda deui, kocap Haji Terawisesa, gawena meureutan jagat bae (nyieun pupunden), dua belas gunduk lobana, eta jagat masih obah nya jadina di eta Gunung, jadi dua belas. ka hiji Gunung Rengganis, Kadua Gunung Padang, katiluna Gunung Lingga, kaopat Gunung Surian, kalima gunung Cakrabuana, ka genep Gunung Penuh, ka tujuh gunung Sangiang, ka dalapan Gunung Jati, ka salapan Gunung Sunda, ka sapuluh gunung Buarangrang, ka sabelas Gunung Jagat, ka sabelas Gunung Jagat, ka dua belas Gunung Agung (Galunggung). ~ (Buk Pakuning Alam Darmaraja).

Nyieun Pupunden tangtungna teu sorangan da aya keneh nu harirup...

Upami eta Ogan nu kasebat moal kitu Ogan Komering ilir, da didinya seueur situs Batu Satangtung??

Wallahu Alam.

RISALAH TAREKAT QODARIYAH NAQSYABANDIYAH

By Deden Heryana

Ari manusa eta kaancikan ku rupa-rupa nafsu dina saban-saban latifahna, tegesna lelembutanana manusa. Ari nafsu aya nu ngajak kana kahadean, jeung aya nu ngajak kana kagorengan, anu matak dina agama Islam, disayagikeun pangajaran TAREKAT, nyaeta maksudna pikeun miara badan manusa sakujur lahir batinna, supaya bisa nyingkahan tina kagorenganana, nyaeta moal daek nurut kana hawa nafsuna, daek milampah kana kahadeanana.

Ari pangwujukna nafsu anu goreng teh eta jadi rereged kumarewedna manusa didunya anu temahna cilaka akheratna, upama manusa henteu palay ngaleungitkeun reregedna ku anjeun tangtu moal ajeg panceug dina kabenerannana moal cucud dina kajujuranana moal tinemu kaluhunganana, jeung moal tanjrih kaadilanana, salawasna, sabab ngagugulung kana pangwujukna hawa nafsu anu henteu aya ereun-ereunana, benang disebut nu kitu teh ngajauhkeun kana ka-islaman, tegesna nirca tina kasalametan dunya rawuh akherat, anu matak dawuhan para ulama muhakikin. 

Manusa-manusa kudu ngageum Tarekat Qodariyah Wan Naqsyabandiyah, anu matak tawajuh latoif, hartina perjalanan keur madepkeun lelembutan manusa kana kahadean, keur nukangkeun kana kagorengan, seperti dawuhan kanjeung Syekh Abdul Qodir Jaelani.
Pihartosen ceuk sundana kieu : "JADI KAWAJIBAN MILURUHNA HIRUPNA ATI TEGESNA ELING KA PANGGERAN, ANU JADI KASALAMETAN AKHERATNA, SUPAYA JADI LEUNGIT REREGEDNA MANUSA ANU JADI PANGHALANG-HALANG KANA KAHADEAN, ARI MILURUHNA NYAETA ANJEUNA MASIH HIRUP KENEH DIDUNIA SARTA NGALAPNA TI PARANTINA (GURU TAREKAT)".
Malahan dawuhan Syekh Ibn Atto'illah, moal bisa wushul ka Allah Ta’ala amun hatena masih keneh kaganggu kana hawa nafsuna.
Sundana : DIMANA REK BISANA PADANG ATI, TEGESNA ELING KA PANGGERAN (TAUHID) SALAGI ATINA PINUH KU RUPA-RUPA GAMBAR MAHLUK (NGALAMUN) ANU DI CAP DINA KACANA HATE (RUPA-RUPA CIPTAAN). JEUNG MOAL BISA WUSUL KA ALLAH TA’ALA, MALAH NUMUTKEUN DAWUHAN ALLAH DINA QUR’AN. SAKIRA-KIRA MANUSA HAYANG NGALEUNGITKEUN REREGEDNA DINA AWAKNA LAHIR BATIN TAYA LIYAN IWAL KUDU DZIKIR KA ALLAH, SUPAYA BISA WUSUL KA ALLAH AYANA IEU AYAT DINA JUZ QUR’AN.
Sundana : MANUSA DIMANA MARILAMPAH KANA RUPA-RUPA KAGORENGAN ATAWA NGARASA AWAKNA SORANGAN POEK KU KARUDETAN JEUNG KACUPETAN, TEU SALAH DEUI DZIKIR BAE KA ALLAH (ELING KA PANGERAN) TANGTU MOAL DAEK DEUI MILAMPAH KANA KAGORENGANANA, JEUNG TANGTU LEUNGIT POEK MONGKLENGNA, SACARA KA BUKA KARUWEDAN JEUNG KACUPETANANA, JADI BISA SALAMET LAHIR BATINNA NYAKITU DEUI DAWUHAN ALLAH DINA QUR’AN.
“PANGNA KAMI NURUNKEUN KANA DZIKIR KA MANEH MUHAMMAD, SUPAYA BISA ATRA JEUNG PERTELA DINA LAKU LAMPAHNA MANUSA, TEGESNA BOGA PADOMAN BISA NGALAKUKEUN KAHADEAN JEUNG BISA NYINGKAHAN TINA KAGORENGAN”.

Ari dzikir ceuk mungguh lugat : Tiap-tiap kalimah anu ngeunaan kana asmana Pangeran seperti sajabana, eta kasebut dzikir mungguh lugat. Tapi ari dzikir  istilah tegesna dzikir anu diatur/dicatur ku ahli dzikir aya dua bagian ; sabagian dzikir anu diamalkeunana ku badan rohani, anu dingaranan Tarekat Naqsyabandiah, jadi dzikir ieu anu dua bagian dingaranan Tarekat Qodariah, nyaeta pikeun ageman manusa, supaya lulus jasadna, nyawana, mulus lahir batinna, beres syareatna, hakekatna jeung matak wilujeung dunya akheratna.

Ari tuduhna kana dzikir anu diamalkeun ku badan jasmani, anu dingaranan Tarekat Qodariah nyaeta anu diunggeulkeun dina salah sawios katerangan :

Tatkala Allah Ta’alla nurunkeun kana dzikir-dzikir pikeun maraneh pek geura kanyahokeun kumaneh, saestuna dzikir teh.

Ari adab-adaban dzikir aya 12 perkara, nyaeta :
1. Dzikir teh kudu di gurukeun heula, sarta guruna kudu anu mursyid, tegesna cukup elmuna, bijaksana ngawurukeunana, titi surti maparin pangartina.
2.  Kudu dijaga dzikirna ulah sampai ka Ghoplah nyaeta ari petana cara nu dzikir, ari hatena luas leos inget kanulian, sabab utamana dzikir = dzikir lambei kudu dibarengan ku dzikir hate. Malah aya kasauran. “ Ari dzikir ku lambei, tapi atina poho, nyaeta dzikir biasa bae (lumrah) nu kitu teh dzikir jalma anu bodo. Ari buahna dzikir jadi siksa, karna dosa, sabab bongan dohirna nyangharep ari batinna sulaya.
3.  Dina rek dzikir kudu Robithoh heula, tegesna nyipta dibarengan ku guru, supaya sagala piwulang guru ulah dimomorekeun.
4.  Kudu bersih atina tina sagala hadas jeung najis.
5.  Kudu nyanghareup ka kiblat upama nyorangan
6.  Dina keur dzikir ulah aya pamandangan istuning wungkul kumereb.
7.  Kudu perem supaya lewih tuhu
8.  Kudu dina poek atawa dinu sunyi supaya leuwih tengtrem
9. Upama keur dzikir nafi-isbat, kudu karasa mapayna ka sakabeh latifah, nurunkeun sakumaha panuduh guru upama keur dzikir isbat wungkul, kudu dipernahkeun dina jero latifahna.
10. Kudu terang kana hartina.
11. Dina keur dzikir sina karasa dina sakabeh latifahna, malah dina sakuliah warugana oge karasa milu dzikir.
12. Sabada dzikir maca latifah :

Ari latifahna manusa tegesna lelembutanana manusa, numutkeun hukum Muhakikin nyaeta aya 7 latifah :
1. Latifah Qolbi (Lelembutan Jantung)
2. Latifah Ruh (Lelembutan nyawa)
3. Latifah Sirri (Lelembutan rasa)
4. Latifah Khafi (Lelembutan anu samar)
5. Latifah Akhfa (Lelembutan rasa anu leuwih samar)
6. Latifah Nafsi (Lelembtan Nafsu)
7. Kakurung ku latifah Qolab, tegesna lelembutan sakabeh badan nyaeta lelembutan acining Cai – Angin – Seneu – Taneuh, sabab badan jasmani teh kajadian tina acining Cai – Angin – Seneu – Taneuh.




Ari lelembutan manusa dieusian ku nafsu anu rupa-rupa pangajakan, ari luluguna aya 7 nafsu nyatana :

1. Nafsu Amarah
Tegesna tukang marentah kana kagorengan kalawan maksa mirusa sangkan ngalampahkeun kana kagorengan, ngancikna dina latifah Nafsi, pernahna antara halis dua, ari baladna aya 7 nyaeta :
- Buhlun (koret)
- Hirsun (Sarakah tur hawek taya ereunna teu noleh mere kanu lian).
- Hasadun (dengki ka papada batur)
- Jahlun (bodo)
- Kibrun (angkuh jeung gumede)
- Sahwatun (keukeureweut)
- Ghodobun (barangasan, getasan, henteu kaopan)

2. Nafsu Lawwamah
Nafsu Lawwamah tegesna pojokan, cawadan nganjreukna dina latifah qolbi, pernahna dina handapeun kenca, ari baladna aya 8, nyaeta :
- Hawaun (kabitaan) temahna teu matak jujur kana pagawean.
- Mukron (deleka)
- Udjbun (nangtukeun nu tacan bukti)
- Ghibatun (ngumpat simuat)
- Riyaun (amal perbuatan mandang katingali, katangen ku batur)
- Dhulmun (neungteuingan)
- Kidbun (cidra)
- Ghaflatun (ngamomorekeun kana kawajiban)

3. Nafsu Mulhamah atawa Sawiyah
Tegesna tukang nampa ilham, bisa terbuka rasana, padang atina, ngancikna dina Latifah Ruh, pernahna dina handapeun susu katuhu, ari baladna aya 7, nyaeta :
- Sanowah (balaba laluasa taya rudetan)
- Qona’ah (ngalap cukup saayana)
- Hilmun (someah ramah tamah rasrasan)
- Tawadhun (handap ashor)
- Thobatun (kapok tina sagala kasalahan)
- Shobrun (bisa nahan kangewa jeng kakeseul hate)
- Tahamul (kuat nandangan kasusah)

4. Nafsu Mutmainah
Tegesna anu purah ngajak-ngajak kana kateguhan, ka ampuhan, kajatnikaan, ngancikna dina Latifah Siri, pernahna dina luhureun susu kenca, ari baladna aya 6, nyaeta :
- Judun (berehan, murah tangan)
- Tawakulun (pasrahan, kajeunan)
- Ibadatun (kumereb, humadep, saregep)
- Sukurun (metakeun waruga katut milikna kanu idin Panggeran)
- Ridhotun (tengtrem ayeum kana pamasti ti Allah Ta’ala)
- Hosyatun (inggis risi narajang kana salah)

5. Nafsu Rodiyah
Tegesna narik kana kapilucueun dina sagala tingkah polah, ngancikna dina Latifah Qolab, nyaeta dina sakuliah badan, ari baladna aya 6, nyaeta :
- Kanomun (mulus tingkah polahna)
- Zuhdun (tatapa)
- Ikhlasun (bersih ati dina sagala tingkah polah)
- Waraun (apik ati-ati dina sagala tingkah polah)
- Riyadotun (ngawarah salira sina dumuk dina kasaean)
- Wifaun (nyumponan, nohonan kana kahadean)

6. Nafsu Mardiyah
Tegesna ngajak kana sagala kanu dipisuka, nyaeta jalan kasaean, ari ngancikna dina Latifah Khofi, pernahna luhureun susu katuhu, baladna aya 7, nyaeta :
- Husnul chuluk (hade bubuden)
- Tarku masiwallah (henteu nolih rasana kana sagala rupa anu dipigawe (Tauhid)).
- Lutfun biholqi (mikawelas ka papada makhluk).
- Hamluhum alassolah (daek leukeun nungtun kana ka alusan).
- Sophunan dunubil ghoer (hampuraan ka jalma anu nyieun salah ka pribadina).
- Hubul Kholqi (deudeuhan ka papada batur).

7. Nafsu Kamilah
Tegesna purah ngajak kana kasampurnaan manusa, ngancikna dina Latifah Akhfa, pernahna dina tengah-tengah dada, ari baladna aya 3, nyaeta :
- Ilmu yakin (kanyahona tetela)
- Aenal yakin (kanyataan anu tetela)
- Haqul yakin (kanyataanana anu kacida tetelana)




Numutkeun Syekh Faruk Sarhanji yen Latifah 10 teh aya 2 bagian. Sabagian 5 nyaeta : Qolbi, Ruh, Sir, Khofi, Akhfa dingaranan Alamul Omri/Alam Amar (tempat wawadah sagala aturan), nyaeta parabotna manusa pikeun mikir-mikir anu henteu kaharti, paranti mikir-mikir anu henteu kaharti, paranti ngulik anu muskil-muskil (mustahil) mahamkeun anu bangga /demit (hese), paranti narima rumasa kana parentah Allah Ta’ala jeng Rasulna, pangna kitu ku ayana Latifah di manusa wungkul, di makhluk sejenna henteu aya malah dawuhan Ulama Muhaqqiqin.

Sundana : ieu Latifah anu 5 (lima) teh aya panampaan paparentahan dampal sampean anu aragung anu kagungan kasabaran, nyaeta para Rasul anu 6.
- Nabi Adam As
- Nabi Nuh As
- Nabi Ibrahim As
- Nabi Musa As
- Nabi Isa As
- Nabi Muhammad SAW

Ari anu 5 deui nyaeta Latifah Nafsiah (lelembutan nafsu jeung 4 anu aya dina Latifah Qolab. Lelembutan sakabeh badan nyaeta tina acining CAI, ANGIN, SENEU, TANEUH eta latifah anu 5 disakabeh makhluk (manusa jeung liyanna) dingaranan Alamul Kholqi (alam kajadian sakabeh makhluk) ari aturanana supaya dina lelembutan manusa ulah kalindih ku pangwujukna nafsu, nyaeta kudu karasa dzikir dina hiji-hijina Latifah, ditungtutan hiji-hiji Latifah tina asal di ajar dilalanyah tepika ngalemah, betah ayana dzikir (eling) teh hideng sorangan, tuluy ditungtutan deui kana latifah anu kadua nyakitu bae cara ngawarah latifah anu kahiji, tepika saterusna kabeh latifah, malah karasana lain dina latifah bae, tapi dina sagala waruga sakujur oge pada ngarasa ngalemah katut kabulu-bulu sadagingna sakulitna, sauratna katut ka pejit-pejitna pada nyarampak nyararing areling tepika nyerep lenyep sumeresep dina sakuliah waruga manusa, ceuk bahasa arab mah khusyu (tuhu, junun, teu nolih kanu liana, henteu malire rasana kana sagala anu dipilampah ku jasadna, anging rasana anu cengeung manteung ka Allah Ta’ala wungkul, atawa oge disebut istigrok = tegesna kaliputan ku lautan Muso’adah Sidkiyah (waspada anu tetela) ngesto taya petotna, ngabdi taya sepina, rumasa sapapanjangna teu nolih kana liana teu malire kanu sejenna, ngancik rasa anu sampurna, estu tetes teleb-teleb, nyelep lenyip, lahir batinna, sumawona kanu ngayuga, sanajan kapapada manusa teu weleh aya ras-rasan karumasaan boga rasa samodal sawedal sabangsa taya aya rasa angkuh sorangan, sepi tina kadiran, pinter aing henteu lian, ginding aing heunteu lian, beunghar aing teu lian, pangkat aing estu kasaluhureun boh harkat darajatna, boh kabogana tara hayang nanduk, sabalikna daek nyampur aku-baur kasasama tara hayang pasea, sabalikna jadi persahabatan anu sampurna, ka sahandapeun tara hayang ngahina, sabalikna nungtun nuju kana jalan kajujuran, kapakir miskin teu weleh darehdeh sareseh, jeung daek mere maweh nganyatakeun welas asihna jeung ngarasakeun dina sagala rupa ka purba ku kawasa sanajan sagede lisah (benyer), moal salah tumarima, kasugri paparina, misilna tileuleutik tepika gede, ti susah tepika bungahna, teu weleh ngait meulit dina rasana aya karumasaan anu sampurna. 

Tah anu kitu dingaranan tegesna anu bisa nungtik nyangsi kana kasampurnaan manusa = keuna kasauran sepuh-sepuh tara unggut kalinduan, tara gedag kaanginan, ceuk basa arabmah ‘Istiqomah’. Tegesna ajeug panceug salalawasna tara katarik kataji ku anu muji, teu tugenah manah ku anu mitnah, tara sewot ku anu moyok, teu haripeut ku anu ngaleum, teu kabongbrong ku anu ngolo, teu tibelat ku anu ha’at, teu sedih pedah kaperdih, teu sungkan pedah dipenta, jejeug ajeug calik dina kayakinan teu aral ku rugina, teu bosen ku usahana, teu agul ku untungna, sadrah dina keur geringna, ikhlas keur ngubaranana, syukuran dina cageurna. Teu cicingeun keur bodona, teu bosenan diajarna, teu takabur ku pinterna, jadi teu sepi-sepi hasilna, dina sagala tingkah polahna, henteu suwung ibadahna tegesna humadep saregep ngawula sapapanjangna.

Teu kaliwat pedah berang teu kalindih pedah peting, teu kahalangan ku berang, teu kahalingan ku peting, singhoreng teh cicingna dina antara, heuleut berang heuleut peting, heuleut hina heuleut mulya, heuleut rugi heuleut untung, berjalan diduanana, kelar napak sapanjangna. Misilna nu tumpak kuda, calik ditengah-tengah sanes payun sanes pungkur, heuleutna payun jeung pungkur payun teuing mah tisuksruk, tukang teuing mah tijengkang, cirina kudu nengahan, ari kuda ditunggangan, nu matak tipayun dipasang kadali rangah, ti pungkur ku apis buntut, papak rata sangawedina, bisina kuda jengjaran, bisina rusuh sandungan, lain kuda teu huluan, lain kuda teu buntutan, ngan cicing diantarana nahan pungkur jeung payunna, lain teu aya susahna, lain teu aya bungahna, lain teu aya geuringna, lain teu aya cageurna, lain teu aya rugina, lain teu aya untungna, ngan cicing diantarana, ngamudi kaduana, tah kakara ngarasa papak ratana, henteu beurat kasabelah sabab mun resep teuing kakatuhu, sok jadi ngewa ka kenca, resep teing ka kenca sok tugenah ka katuhu, resep teuing kana benghar, sok ngewa kana malarat, cicingeun dina malarat, sok hayang nu benghar, resep teuing dina pangkat, sok ngewa panggih jeung cacah, pedah urang dina cacah, teu hayang luyu jeung pangkat, padahal mah keur susah teh pibungaheun, padahal keur bungah teh pisusaheun, padahal mah keur benghar teh pimalarateun, padahal keur malarat teh pibenghareun, padahal mah keur jadi rakyat teh pipangkateun, padahal mah keur jadi pangkat teh pirakyateun.

Tah lamun kitu teh karasa papak ratana layeut kahilir kagirang, upamana marojengja, pasti kana sulayana, tinangtu paraseana, sababna pakia-kia. Kumargi kitu kasugri nu parantos ngageum Tarekat Qodariyah Wan Naqsyabandiyah khususna kaum Muslimin umumna, mugi sami bareng-bareng ngaihtiaran kana jalan kasaean, nyingkahan tina jalan kaawonan, karana anu jadi kasalametan di akherat teh nyaeta anu ngalampahkeun hade di dunyana, nyakitu deui anu cilaka akheratna teh, nemahan salah di dunyana, jadi sadaya manusa pada boga tanggung jawab, kuduna ngurus badan sakujur, ngadidik diri pribadi, ulah rasa kajongjonan, betah dina kasalahan, matak cerik akhirna, matak cilaka tungtungna dina enggoning ngumbara di alam dunya, kudu bisa mernahkeun salira, dina kahadean salawasna, mangkana salira taya serepna, kari-kari lalawora, henteu apik miarana boh dohirna boh batinna, tetep resep dina kasalahan, ngumbar nafsu sapanjangna. Nu matak ayana Tarekat Qodariyah Wan Naqsyabandiyah teh, nyaeta perjalanan perihtiaran keur mernahkeun kahadean kasampurnaan lahir batin, nyingkahan tina kasalahanana.

Mugi-mugi Gusti Allah Ta’ala maparin terbuka ilham anu mulya supaya tinemu bagja, hasil pamaksudanana, sinareng ieu risalah, muga-muga jadi wasilah, ka seja nu milampah, bisa ka ala buahna bisa kapeutik hasilna, manfaat sapapanjangna, salamet dunya akheratna, salamet jasadna, salamet nyawana, salamet lahir batinna, diraksa ku Nu Kawasa, bisa napakkeun hadena, bisa nyingkahan gorengna, parek rizkina, jauh balaina, taya sanes nu di suprih Cageur-Bageurna.


INTISARINA

Martabat Alam nurutkeun Makomna Aya 2 (dua) nyaeta :
1. Alam Amar (Alamul Omri)
2. Alam Khalaq (Alamul Kholqi)

Ari Alam Amar kasusun tina :
1. Qolbu nyaeta Alam Malak jeung Sahidan
2. Roh nyaeta Alam Malakut jeung Arwah
3. Sir nyaeta Alam Jabarut
4. Chafi nyaeta Alam Lahut
5. Achfa nyaeta Alam Ghoib Huwiyah Ilahiah.

Alam Kholaq kasusun tina 1 Nafsu jeung 4 Unsur Alam hiji-hijina diantawisna :
1. Nafsul Hayawani (Hewaniah)
2. Turabun (Acining Taneuh)
3. Maun (Acining Cai)
4. Hawaun (Acining Angin)
5. Narun (Acining Seneu)

Martabat Qolbi dilebetkeun kana Martabat Af’al
Tempatna : Riqqah, Marifah, Hub, Sabr, nyatana lembut hatena, nyaho, micinta jeung sabar

Martabat Roh dilebetkeun kana Martabat Asma
Tempatna : Rahmah, basath, dan surur yatana kasih sayang, kamurahan dan kagumbiraan.

Martabat Sir dilebetkeun kana Martabat Sifat Subutiyah
Tempatna : Farah, dhahak, ghurur, yatana gumbira, seuri jeung bimbang.

Martabat Chafi dilebetkeun kana Martabat Sifat Salbiyah
Tempatna : Hazzan, chauf, buka nyatana cemas, sieun jeung ceurik

Martabat Achfa dilebetkeun kana Martabat Zat Mutlaqah nu pangluhurna
Tempatna : Syahwat, djur’ah, sjadja’ah, yatana hawa nafsu, gede wawanen, satria jeung panceg.

SILIH ASAH SILIH ASIH SILIH ASUH

By Deden Heryana

Sampurasun...

Naon bae nu kaasup ugeran dinu kecap,  Silih Asih, Asah jeung Asuh teh.

Babasan disebut motto nu kacida dipiwanohna ku masyarakat Tatar Pasundaan, nyaeta Silih Asih - Silih Asah - Silih Asuh sok disingget istilahna jadi SILAS. 

Upama dianggap yen Silih Asih - Silih Asah - Silih Asuh teh mangrupa hiji sistim, geus tinangtu urang kudu neangan unsur naon bae nu kaasup Silih Asih - Silih Asah - Silih Asuh teh. Moal henteu eta unsur-unsur teh kudu jadi pituduh anu positif pikeun tingkahlaku atawa rengkak polah manusa enggoning hirup kumbuh di lingkungan masarakatna. Kapan mungguhing manusa teh kaasup homo socius, tegesna mahluk anu hirupna kukumbuhan. Tambah eces deui yen Silih Asih - Silih Asah - Silih Asuh teh alat pikeun campur gaul, nyaeta ku ayana kecap SILIH. Ieu kecap teh tuduh kana ayana pagawean anu pabales-bales (resiprokal), hartina aya dua pihak, atawa nu dianggap dua pihak boh sabage subyek boh sabage obyek.

Sanggeus nitenan sawatara kamungkinan, unsur naon bae nu kudu nyampak dina unggal aspek Silih Asih - Silih Asah - Silih Asuh tea, kapapay aya sawatara unsur anu raket tumalina, nyaeta :


1. SILIH ASIH
Sacara harfiah SILIH ASIH nyaeta rasa atawa tingkah laku nu nembongkeun silih pikanyaah, silih pikaasih, silih pikaheman. Dr Sulaeman B. Adiwidjaja, nu nitenan kana kahirupan masara­kat, hususna di Tatar Sunda, geus ngumpulkeun harti jeung ma'na Silih Asih, ceuk inyana Asih teh miboga unsur anu wincikanana saperti ieu di handap:

- Asih nyaeta gawe
- Asih nyaeta aktif
- Asih nyaeta ayana dedikasi
- Asih nyaeta bisa badami (kompromi)
- Asih nyaeta disiplin
- Asih nyaeta ngabagikeun tanggung jawab
- Asih nyaeta sabar
- Asih nyaeta ajen jeung tujuan
- Asih nyaeta pangorbanan
- Asih nyaeta ekspresi diri
- Asih nyaeta realitas hirup
- Asih nyaeta ayana kajujuran
- Asih nyaeta rasa sugema tina hasil gawe bareng
- Asih nyaeta rasa kaendahan
- Asih nyaeta sakapeung nimbulkeun kapeurih tapi bisa dirasionalkeun, disublimasikeun
- Asih teh mikabutuh waragad

Ku sim kuring wincikan Dr. Sulamen B, Adiwijaya di luhur dipedar deui malar leuwih eces pamaksudanana, sarta muga-muga bae bisa kapapay ajen-inajen (nilaibudaya) nu dikandungna.

- Asih nyaeta Gawe
Nu dimaksud teh nya eta salasahiji tanda yen urang miboga rasa asih, rasa nyaah eta teh bakal dilaksanakeunana dina wangun "gawe". Rek pagawean nu sipatna lahir nyaeta nu mangrupa pangupa jiwa, bisa oge nu mangrupa pagawean batin upamana bae ngadu'akeun sangkan nu dipikaasih tea pinanggih jeung kabagjaan.

- Asih nyaeta Aktif
Aktif ngandung harti terus neangan tarekah, sangkan nu dipi­maksud hasil. Bisa dihartikeun oge yen nu kudu aktif teh diri urang pribadi anu kudu tiheula nuwuhkeun rasa asih ka nu sejen.

- Asih nyaeta Rukun Gawe (kerjasama)
Asih, hususna upama dikeunakeun ka jelema, ngandung harti aya pihak nu mikaasih jeung nu dipikaasih. Dua pihakanana geus sakudu­na pada silih pikaasih, hartina daek digawe babarengan pikeun ngawujudkeun nu jadi tujuanana. Ulah pahiri-hiri. Ulah nogencang sosoranganan.

- Asih nyaeta Ayana Dedikasi
Dedikasi, tegesna junun tur teguh hate. Ieu ngandung harti sanajan naon bae halangan harungan nu karandapan, henteu matak jadi reuntas harepan. Upamana bae urang asih kana pagawean nu keur digarap; tinangtu kudu dibarengan ku dedikasi nu luhur, sangkan eta pagawean aya hasilna, luyu jeung nu dipikahayang.

- Asih nyaeta Bisa Badami (kompromi)
Asih teh dipilampahna ku dua pihak. Ieu ngandung harti kudu aya tarekah pikeun nyaruakeun pamanggih (persepsi). Pikeun nya­ruakeun pamanggih tea nya kudu dibarengan ku bisa badami, mato­toskeun tujuan nu rek dihontal. Jadi musawarah teh kaasup unsur pikeun ngawujudkeun rasa asih.

- Asih nyaeta Disiplin
Tegesna rasa asih teh mikabutuh ayana disiplin diri, kasatiaan jeung kamampuh ngawatesan diri.

- Asih nyaeta Ngabagikeun Tanggung Jawab
Kulantaran asih teh ngawujudna dumeh aya dua pihak tea, aya subyek aya obyek. Ku kituna pada-pada miboga hak jeung tanggung jawab. Apal kana hak jeung tanggung jawabna masing-masing, eta jadi ciri silih asih.

- Asih nyaeta Sabar
Moal henteu dina pagiling-gisikna dua pihak tea, komo jeung kudu nyaruakeun pamanggih atawa kahayang mah, bakal loba cocoba jeung halangan harunganana. Ku kituna kacida perluna aya sipat sabar jeung silih eledan.

- Asih nyaeta Ajen jeung Tujuan
Rasa asih teh kaasup hal nu teu nembrak (abstrak), jadi kaasup sistim ajen-inajen (B.I: nilai). Ajen kamanusaan di antarana nyaeta rasa asih. Rasa asih bisa dimimitian ku asih ka pribadina, dibuktikeun ku miara kasehatan lahir batin dirina. Ti dinya asih ka lingkungan jeung sasamana nu akhirna asih ka

Alloh Nu Nyip­takeun dirina. Eta sababna rasa asih teh kaasup jadi tujuan tina asih tea.

- Asih nyaeta Pangorbanan
Rasa asih kalan-kalan sok ngaheulakeun kapentingan dirina pribadi wungkul nyaeta nu sok disebut egois. Padahal ari sajatin­ing asih teh nyaeta sadia pikeun bakorban demi nu dipikaasihna. Ari pangorbananana bisa bae dina wangun materil atawa moril. Ngan nu tetela keur ngawujudkeun rasa asih teh mikabutuh ayana pangorbanan.

- Asih nyaeta Ekspresi Diri
Rasa asih nyampakna dina parasaan, hiji hal anu abstrak. Rasa asih ieu teh dina hakekatna mah mangrupa ekspresi diri sagembleng­na. Jelema nu teu bisa ngaekspresikeun rasa asihna, geus tinangtu bakal kaganggu kasaimbangan jiwana. Sabalikna jelema nu bisa ngaekspresikeun dirina ku cara mikaasih ka nu sejen, bakal ngarasa hirupna aya gunana, tumuwuh kapercayaana dirina.

- Asih nyaeta Realitas Hirup
Hirupna jelema teh mangrupa hiji kanyaataan, hiji realitas yen dirina aya. Ku kituna nembongkeun rasa asih teh, hiji cara pikeun nembongkeun kanyataan (realitas) hirup.

- Asih miharep Ayana Kajujuran
Kulantaran silih asih teh hiji pagawean anu kudu aya dua pihak, nyaeta nu mikaasih jeung nu dipikaasih (resiprokal), tangtu bae ti dua pihakanana kudu aya kajujuran. Jujur di dieu ngandung harti bruk-brak teu salingkuh. Silih percaya anu iklas tur wening.

- Asih nyaeta Rasa Sugema tina Hasil Gawe Bareng
Rasa silih asih bakal leuwih pageuh, bakal leuwih gede duriat silaturahmina, upama hasil rukun gawe babarengan, hasil silaturah­mi teh matak nimbulkeun kasugemaan keur kabeh pihak. Rasa sugema teh torojolna tina rasa silih ajenan lahir batin. Rasa hayang silih sugemakeun.

- Asih nyaeta Rasa Kaendahan
Kulataran asih teh nyampakna dina rasa, ari salasahiji unsur rasa teh nyaeta rasa "endah". Rasa endah bakal nuwuhkeun kaendahan lahir batin. Bakal karasa endah saparipolahna, bakal karasa asri tur wening usik batinna. Geter silaturahmi nu endah tur pinuh ku kasugemaan bakal karasa ku sarerea.

- Asih Sakapeung Nimbulkeun Kapeurih tapi Bisa Dirasionalkeun, Disublimasikeun
Kulantaran asih teh mangrupa gerakna batin, moal henteu dina hiji waktu bakal kajadian rasa asih karasana matak peurih. Eta rasa kapeurih teh kulantaran ayana rasa egois, rasa hayang ngaheu­lakeun atawa mentingkeun kasuagemaan pikeun dirina pribadi. Tapi upama kapeurih tea ditarima jeung dilenyepan kalawan rasional bari ayem mah, eta rasa kapeurih teh bisa dirasionalisasikeun, hartina bisa ditarima ku akal, nu balukarna bisa narima kana kaayaan nu tumiba kalawan sadrah. Malah teu mustahil rasa kapeurih bisa dikamalirkeun dina karya nyata.

- Asih teh Mikabutuh Waragad
Teu bisa henteu, sanajan henteu salilana, tapi sabagian gede enggoning ngawujudkeun rasa asih teh bakal mikabutuh ayana wara­gad. Aya biaya pikeun ngawujudkeun kasugeman kabeh pihak.

Ku kituna tetela geuning SILIH ASIH teh leuwih condong kana ajen kualitas intrinsik (nu nyampak dina batin pribadi) manusa. Pinuh ku ajen silaturahmi anu welas tur asih kacida kandelna. Ku kituna taya deui jalanna iwal ti urang mampuh ngawujudkeun unsur-unsur Silih Asih dina tingkah laku sapopoe enggoning campur gaul jeung papada manusa; jeung papada mahluk Alloh lianna. Moal henteu lila-lila mah sabudeurna lingkungan hirup urang bakal disimpay ku rasa silih asih silaturahmi anu wening tur tengtrem ayem.


2. SILIH ASAH
Tumut kana sistem wincikan SILIH ASIH nu digarap ku Dr. Sulaeman B. Adiwidjaja, sim kuring nyusun unsur-unsur SILIH ASAH make metodeu kitu oge, yen SILIH ASAH teh miboga unsur :

- Asah nyaeta boga sumanget jeung kahayang
- Asah nyaeta mampuh ngadalian diri
- Asah nyaeta alat keur ngahontal tujuan
- Asah nyaeta metode
- Asah nyaeta sabar
- Asah nyaeta bruk-brak (keterbukaan)
- Asah nyaeta ngatur
- Asah nyaeta kajujuran
- Asah nyaeta garapan nu lumangsung terus (berkelanjutan)
- Asah nyaeta ngaropea (pengelolaan)
- Asah nyaeta kreatifitas
- Asah nyaeta inovatif
- Asah nyaeta mere pangajen (menilai)
- Asah nyaeta wani diuji
- Asah nyaeta proaktif
- Asah nyaeta bajoang
- Asah nyaeta kualitas diri
- Asah nyaeta komunikasi
- Asah nyaeta sinergik

Konsep dasar silih asah nyaeta silih tambahan kanyaho, silih seukeutan elmu pangaweruh, silih tambahan pangalaman. Ningkatkeun kamaheran jeung ningkatkeun kualitas mikir pikeun ngungkulan tangtangan atawa masalah nu disanghareupan. Anapon pikeun manusa mah, masalah tangtangan teh moal aya tungtungna. Kaungkulan hiji masalah tangtu bakal datang deui masalah sejenna, da kitu pidawuh Alloh Swt dina Al Balad ayat 3,4 oge. Sabab mungguhing kualitas hirupna hiji jelema enas-enasna mah nyaeta runtuyan kamampuh dina ngungkulan panangtang jeung masalah hirup jeung kahirupan nmu karandapanana. Ku kituna mun eta manusa teh henteu mibanda kamapuh pikeun ngungkulan kasulitanana, tinang­tu bakal ngarandapan katunggaraan nu lain lumayan. 

Pikeun bisa ngungkulan panangtang jeung masalah hirup, taya deui jalanna iwal ti urangna pribadi kudu beunghar ku elmu pangaweruh, loba kabisa, rancage, binekas tur binangkit. Pancegna mah harti SILIH ASAH teh nyaeta cara atawa tarekah pikeun nambahan kanyaho jeung elmu pangaweruh boh lahir boh batin. Sarta dina prungna angger kudu aya dua pihak, nyaeta nu ngasah jeung nu diasah. Nu mapatahan jeung nu dipapatahan.

Nurutkeun unsurna SILIH ASAH bisa diwincik saperti kieu :

- Asah nyaeta Boga Sumanget jeung Kahayang
Pikeun nambahan kanyaho tangtu kudu didadasaran heula ku ayana sumanget jeung kahayang nu nyampak dina dirina. Tanpa sumanget jeung kahayang, musatahil bisa ngulik elmu pangaweruh. Tumuwuhna sumanget taya deui iwal ti bisa ngayakinkeun diri yen dirina mampuh pikeun terus ngulik elmu pangaweruh.

- Asah nyaeta Mampuh Ngadalian Diri
Pikeun ngahontal hasil nu nyugemakeun, kamampuh ngadalian diri atawa boga disiplin kacida perluna. Sabab ngulik elmu hentgeu bisa sangeunahna, sakarep-karep. jelema anu teu boga disiplin bakalna moal maksimal dina ngulik elmu pangaweruh.

- Asah nyaeta Alat keur Ngahontal Tujuan
Gunana elmu pangaweruh hasil tina Silih Asah teh nyaeta dipi­bandana elmu pikeun alat ngahontal tujuan. Sabab kapan sagala rupa oge aya elmuna aya padikana, aya carana. Ku kituna sing saha nu loba mibanda elmu pangaweruh eta teh lir jelema nu mibanda rupa-rupa pakarang; tapi mangpaat henteuna eta pakarang gumantung kumaha ngagunakeunana.-

- Asah nyaeta Metode
Ngulik elmu pangaweruh henteu bisa sagawayah, tapi kudu nyusun puguh entep seureuhna. Ieu ngandung harti aya padikana atawa aya metodena. Aya cara jeung prakprakanana.

- Asah nyaeta Sabar
Salah sahiji pasaratan pikeun urang ngulik elmu pangaweruh, nyaeta ayana kasabaran, temen wekel tur henteu gancang bosen. Sabab ari elmu pangaweruh teh tumuwuhna menta waktu, aya proses, jadi tetela kudu dibarengan ku kasabaran.

- Asah nyaeta Bruk-brak (keterbukaan)
Diajar paelmuan atawa ngajarkeun elmu pangaweruh mutlak kudu bruk-brak nembrak, hartina euweuh nu disumput salindungkeun. Teu saeutik elmu pangaweruh anu ayeuna geus leungit sabab henteu kawariskeun atawa kaajarkeun sagemblengna ka nu sejen. Ku kituna boh nu ngajar boh nu diajar kudu sarua nembrakna. Pada-pada dida­dasaran ku boga karep rek nepakeun jeung nyeuseup elmu pangaweruh.

- Asah nyaeta Ngatur
Nepakeun jeung narima elmu pangaweruh henteu bisa kitu bae, tapi aya aturanana, jadi kudu diatur boh nurutkeun tahapan luhur handapana paelmuan, boh didasarkeun kana kaayaan jeung kaperlua­nana, kana umur jeung kamampuhna. Bisa oge dina harti ngatur bahan nu rek diajarkeun, kitu deui ngatur waktuna.

- Asah nyaeta Kajujuran
"Kajujuran" bisa dihartikeun yen dina nemakeun elmu pangaweruh perlu ku kaobyektifan, sangkan hasilna bener-bener miboga kualitas elmu nu bebas tina parasaan subyektif.

- Asah nyaeta Garapan nu Lumangsung Terus (berkelanjutan)
Elmu pangaweruh teh karek kahontal ku ngaliwatan proses anu nambahan terus (kumulatif). Ku kituna dina nemakeunana oge tinang­tu menta waktu nu taya eureunna, lumangsung terus. Kapan ngulik elmu pangaweruh teh jadi kawajiban sapanjang hirup.

- Asah nyaeta Ngaropea (pengelolaan)
Nemakeun jeung ngulik sugrining elmu pangaweruh tinangtu miboga sistem, metode jeung didaktikna. Perlu diropea cara jeung prakprakanana, sangkan luyu jeung ajas ngatik-ngadidik atawa nemakeun kanyaho ka nu sejen.

- Asah nyaeta Kreatifitas
Kreativitas dihartikeun daya hirup nu rancage. Silih asah pangaweruh, silih seblok kanyaho, eta mikabutuh daya kreatif boh ti nu ngasahna boh ti nu diasahna. Ayana karancagean kacida perlu­na dipibanda ku sing sugri nu hayang ningkatkeun sumber daya pribadina.

- Asah nyaeta Inovatif
Inovatif bisa dihartikeun kakuatan nu mere daya tumuwuh nu anyar, tepi ka elmu pangaweruh teh bisa digunakeun pikeun ngungku­lan masalah-masalah anyar. Mekarna elmu pangaweruh nya eta ku ayana daya inovatif. Tumuwuhna daya inovatif jadi ciri ngagedurna daya hirup dina dirina.

- Asah nyaeta Mere Pangajen (menilai)
Pikeun mikanyahyo kualitas elmu pangaweruh, tangtu bae perlu ayana pangajen (penilaian). Silih asah oge hakekatna mah pikeun mikanyaho (nganiley) antara hiji jalma jeung jalma nu sejenna, nya ngagelarkeun proses silih asah. Jadi bisa disebutkeun yen nu ngasah nya eta nu mere pangajen, jeung nu diasahna nyaeta nu jelema nu diajenna. Ku kituna kakara bakal aya proses nu sipatna resiprokal (pabales-bales).

- Asah nyaeta Wani Diuji
Samangsa-mangsa aya proses silih asah, tegesna aya silih temakeun pangaweruh, ngandung harti oge geus sadia pikeun diuji, dites, dicoba kanyahona tea. Ieu ngandung harti bakal bras kana pangajen kualitas nu diujina.

- Asah nyaeta Proaktif
"Proaktif", meh saharti jeung rancage, rancingas, rapekan; henteu kuuleun henteu cicingeun. Mikirna salawasana postif jeung dinamis. Salawasana nyieun tarekah sangkan nu dipimaksudna bisa kahontal. Jelema anu proaktif moal pinanggih jeung "frustasi, stress" atawa peunggas harepan.

- Asah nyaeta Bajoang
Tangtu bae boh keur nu "ngasahna" boh nu keur" diasahna", poses silih asah teh ngandung perjoangan nu taya reureuhna. Ku kituna mikabutuh ayana sumanget bajoang nu ngagedur.

- Asah nyaeta Kualitas Diri
Ieu mah geus tetela pisan yen sing saha nu terus tumerus ngasah dirina, boh elmu lahir boh elmu batin, bakal nangtukeun kana ajen atawa kualitas dirina. Kapan sakitu ecesna yen jelema nu boga elmu pangaweruh mah darajatna teh leuwih luhur tibatan nu teu boga pangaweruh.

- Asah nyaeta Komunikasi

Pikeun lumangsungna proses silih asah anu optimal, tinangtu mikabutuh ayana komunikasi nu lancar ti dua pihakanana. Ieu ngan­dung harti kudu tumuwuh rasa mikabutuh jeung dipikabutuh. Ku kituna kamaheran ngayakeun komunikasi kacida diperlukeunana. Salah komunikasi (miskomunikasi) geus tinangtu bakal ngajadi panghalang kana proses silih asah.

- Asah nyaeta Sinergik
Hartina sinergik (sinergic), nyaeta kamampuh pikeun nuwuhkeun hiji hal anu anyar tina tepungna dua hal anu beda. Kapan ari silih asah teh ngandung harti aya dua pihak atawa sababaraha pihak anu silih interaksi. Unggal pihak pada miboga kanyaho jeung elmu pangaweruhna sewang-sewangan. Dina proses silih asah pisan tina rupa-rupa kanyaho teh bisa nuwuhkeun hiji kanyaho (pangaweruh, elmu) anu anyar, minangka hasil pagesrekna komunikasi ti sababara­ha pihak.

Kitu di antarana wincikan unsur-unsur SILIH ASAH teh.

Upama dititenan tetela enas-enasna tinsa SILIH ASAH teh nyaeta ukuran kualitas kognitif jeung psikomotorik unggal jelema, tegesna kamampuh, kamaheran, katerampilan dina ngungkulan masalah hirup. Mangpaatna elmu pangaweruh teh taya lian ngan pikeun ngungkulan rupaning masalah jeung tangtangan nu disangahareupan sapopoe. Ari kampuhan pikeun ngungkulan masalaha teh kapan kudu ngarandapan proses diajar, nya eta SILIH ASAH tea. Kapan nu ngabedakeun manusa jeung mahluk sejenna teh nyaeta kualitas akal jeung elmu pangaweruhna. Ku kituna nya gelar paribasa jeung babasan di Sunda :
- Manuk hiber ku jangjangna, jalma hirup ku akalna.
- Moal ngakeul mun teu ngakal, moal ngarih mun teu ngoreh.


3. SILIH ASUH

Kecap ASUH ngandung harti ngabingbing, ngatik ngadidik, nga­jeujeuhkeun, makihikeun, silih raksa, silih riksa, silih jaga dibarengan ku rasa nyaah jeung asih . Jadi SILIH ASUH bisa dihar­tikeun silih aping silih jaring, silih pikanyaah, silih pihapekeun diri, silih tanggeuy ku kadeudeuh, silih ajen inajenan, silih hormat. Nu ahirna ngawujudkeun rasa anu tengtrem ayem, pinuh ku geter silaturahmi anu wening. Anu saluhureun mikanyaah ka nu sahandapeun, anu sahandapeun ngajenan ka nu saluhureun, jeung sasama silih tulung tinulungan. Silih jeuhjeuhkeun kadeudeuh, silih pakihikeun rejeki. Sagala rupa kudu dipilampah bari jeung titih rintih, nete taraje, nincak hambalan, nyusun jeung ngentep seureuh nurutkeun tatakramana. SILIH ASUH teh bisa disinggetkeun dina kecap anu populer nyaeta kudu POSISIONAL, PROPORSIONA  jeung PROFESIONAL.

Unsur tina SILIH ASUH di antarana :
- Asuh nyaeta kasadarajatan
- Asuh nyaeta ngahargaan
- Asuh nyaeta kaiklasan
- Asuh nyaeta bakorban
- Asuh nyaeta mikawanoh diri pribadi
- Asuh nyaeta kajujuran
- Asuh nyaeta adil
- Asuh nyaeta sinatria
- Asuh nyaeta regenerasi
- Asuh nyaeta panghormatan
- Asuh nyaeta kaderisasi
- Asuh nyaeta pangakuan
- Asuh nyaeta kaweningan hate
- Asuh nyaeta tanggung jawab
- Asuh nyaeta rasa sauyunan (kebersamaan)

Upama dipedar leuwih gemet, SILIH ASUH teh ngandung harti saperti ieu di handap :

- Asuh nyaeta Kasadarajatan
Kasadarajatan bisa dihartikeun ayana rasa karumasaan yen pada-pada mahluk Alloh. Tegesna henteu kaancikan ku rasa hayang nge­lehkeun atawa hayang neken, jajauheun kana hayang ngajajah mah. Dua pihakanana pada narekahan sangkan aya kasaimbangan anu luyu jeung tatakrama sosial.

- Asuh nyaeta Ngahargaan
Silih hargaan atawa silih ajenan, tegesna pada-pada narekhan sangkan interaksi teh panceg ngajenan hak ajasi pribadina masing-masing.

- Asuh nyaeta Kaiklasan (kerelaan)

Silih asuh nyatana kasadiaan ti kabeh pihak pikeun sacara iklas tur rela nyadiakeun waktu, tanaga jeung pikiran geusan ngawujudna suasana silih asuh.

- Asuh nyaeta Berkorban
Sanggeus ayana kaiklasan tinangtu bakal sadia pikeun bakorban. Sabab ngasuh ngandung harti aya hal-hal anu sipatna pribadi kudu dikorbankeun pikeun ngawujudna suasana silih asuh.

- Asuh nyaeta Mikawanoh Diri Pribadi
Kulantaran salah sahiji ciri tina Asuh teh nyaeta proporsional, ieu ngandung harti dua pihakanana kudu wanoh kana kamampuh jeung posisi dirina, tepi ka dirina apal lebah mana posisina, naha dina posisi kudu ngasuh atawa keur jadi nu diasuhna.

- Asuh nyaeta Kajujuran
Sarat utama pikeun tumuwuhna rasa silih percaya nu ahirna ngawujud jadi rasa silih asuh, nyaeta nyampakna kajujuran ti dua pihakanana. Jujur dina harti beresih hate, bruk-brak, henteu beungeut nyanghareup ati mungkir, henteu suudon atawa goreng sangka; daek narima kanyataan saayana.

- Asuh nyaeta Adil
Kaadilan, tegesna ngajenan kana hak jeung kawajiban boh keur dirina pribadi boh keur batur. Ayana kaadialan bakal nuwuhkeun pageuhna tatali batin.

- Asuh nyaeta Sinatria
Sinatria nyaeta sipat wani ngaku kana kasalahan jeung kakurang dirina, sarta wani ngaku kana kapunjulan nu sejen. Sipat sinatria bakal nuwuhkeun rasa diajenan.

- Asuh nyaeta Regenerasi
Enas-enasna tina silih asuh nyaeta ayana tujuan pikeun ne­makeun kanyaho atawa kalungguhan ka entragan nu anyar. Jadi miban­da daya regenerasi. Hal ieu teh kacida perluna pikeun lumangsungna peradaban bangsa, pikeun kamajuan bangsa. Tanpa ayana rasa silih asuh tinangtu proses regenarasi bakal kandeg.

- Asuh nyaeta Panghormatan
Hakekatna pikeun nu ngasuh atawa keur nu diasuh, silih asuh teh bukti tina rasa panghormat ti dua pihak. Rasa hormat bakal tumuwuh upama aya geter-geter gaib nu sumirat tina kapribadianana nu ngabalukarkeun batur ngarasa yen kudu mihormat.

- Asuh nyaeta Kaderisasi
Kaderisasi, nyaeta tarekah pikeun nepakeun pancen atawa udagan ka generasi nu anyar anu ngahaja diaping dijaring, dibebener sangkan muru kana hiji tujuan anu geus ditangtukeun. Proses kader­isasi leuwih neueulkeun kana ayana proses transformasi ajen atawa pangaweruh. Lumangsung hiji organisasi bakal kacida gumantungna kana kalancaranana proses kaderisasi; sarta ieu teh bakal kawu­judkeun ku ayana SILIH ASUH.

- Asuh nyaeta Pangakuan
Proses SILIH ASUH ngandung unsur ayana pangakuan anu jujur ti dua pihakanana. Pada-pada ngarasa yen silih pikabutuh. Duanana kudu pada ngaku yen boh nu ngasuh boh nu diasuh, eta teh pagawean anu kudu dipilampah ku duapihakanana. SILIH ASUH moal bisa ngawu­jud upama anu aktipna ngan salasahiji pihak bae.

- Asuh nyaeta Kaweningan Hate
SILIH ASUH kakara bisa karasa geter silaturhamina upama dida­dasaran ku kaweningan hate, iklas tur taya pangarahan. Kaweningan hate teh lir ibarat cai nu herang ngagenyas nu mere daya hirup.

- Asuh nyaeta Tanggung Jawab
SILIH ASUH eta jadi tanda ayana rasa tanggungjawab ti dua pihakanana, boh tanggung jawab pikeun ngawujudkeun hiji udagan ti nu ngasuhna, jeung rasa tanggung jawab pikeun neruskeun ngawu­judkeun tujuan tea ku nu diasuhna. SILIH ASUH teh ngandung harti karageman pamadegan kana hiji udagan nu rek dihontal.

- Asuh nyaeta Rasa Sauyunan (kebersamaan)
SILIH ASUH dibeungkeutna ku ayana silih eledan, rukun sauyu­nan, sareundeuk-saigel, sabata sarimbagan, saketek-sapihanean.

Upama dititenan kalayan gemet, tetela SILIH ASUH teh nitik-beuratkeun pisan dina ayana kasaluyuan jeung "laras"-na hubungan silaturahmi antara manusa nurutkeun proporsi jeung profesi jadi unsur nu kacida pentingna. Kamaheran manajerial jeung ngajenan kana birokrasi kaasup aspek SILIH ASUH.

SILIH ASUH hakekatna mah taya lian ti pikeun ngawujudkeun HAK AZASI MANUSA SAGEMBLENGNA nurutkeun kodratna sewang-sewangan.

Kasimpulan
Upama ditengetan jeung dilenyepan mah, tetela geuning babasan (motto) SILIH ASIH - SILIH ASAH jeung SILIH ASUH teh estu leubeut ku ajen-inajen kamanusaan; anu upama bisa diwujudkeun dina tingkah laku sapopoe mah bakal ngagelarkeun hirup nu tengtrem ayem pinuh berekah bari kebek ku ngantengna silaturahim anu wening.Lamun seug urang Tatar Sunda mampuh ngalaksanakeun prinsip-prinsip Silih Asih - Silih Asah jeung Silih Asuh dina kahirupan sapopoe, moal henteu kualitas Sumber Daya Manusa di Jawa Barat bakal unggul nu ahirna dipiharep bisa milu ngangkat harkat darajat Bangsa Indonesia kana tahap nu unggul pinunjul.

RAWAYAN JATI URANG SUNDA

By Deden Heryana
Istilah rawayan jati semakna dengan shirath, intelek kosmos, atau konsep sangkan paraning dhumadi dari teologi sunda, yaitu kesadaran religius manusia di dunia, dari mana awal dan ke mana akhir keberadaannya. Indikator yang digunakan adalah alur teologi Islam dengan pendekatan moral, hal ini yang tercermin dalam pandangan hidup orang Sunda adalah monoteisme atau Sanghiyang Tunggal, Nu Maha Ngersakeun.

Manusia yang bermartabat untuk mencapai innalilahi wa inna ilaihi raji'un, pandangan hidup orang Sunda, yaitu mulih ka jati mulang ka asal, congo nyusup dina puhu, yang menghela gerbong-gerbong kesadaran religius setiap insan dalam meniti Rawayan Jati-nya. Adapun rantai kaitan gerbong-gerbong itu adalah akhlak muslim yang mulia. Metode bersosialisasi yang nyunda ada tiga aspek yaitu silih asih atau silaturahim yang bening, silih asah atau saling mencerdaskan akal pikiran lahir batin, dan silih asuh atau sadar posisi, proporsional dan profesional. Indikator keberhasilannya adalah manusia Sunda anu cageur, bageur, bener, pinter, wanter, teger, pangger, singer, cangker.

Hakikat (ontologi) kesundaan, Abah Surya memberikan empat tipologi.

1) Sunda subjektif. Seseorang berdasarkan pertimbangan subjektifnya merasa bahwa dirinya adalah urang Sunda, maka dia adalah urang Sunda. 

2) Sunda objektif. Seseorang dianggap orang lain sebagai urang Sunda, maka orang tersebut sepantasnya mampu mengartikulasikan anggapan orang itu bahwa dirinya orang Sunda. 

3) Sunda genetik. Seseorang yang secara keturunan memiliki silsilah urang Sunda pituin. 

4) Sunda sosio-kultural. Orang yang walaupun secara genetik bukan orang Sunda, tetapi menjadikan falsafah dan kebudayaan Sunda sebagai haluan hidupnya.

Islam Sunda dan Sunda Islam dijadikannya "satu tarikan napas" tanpa satu sama lain saling menegasikan. Dalam kerangka ilmunya (epistemologi) dipadukan tak ubahnya gula dan peueutna. Membaca "Nurhidayahan" (dan "Nadoman Nurul Hikmah") apalagi kalau diiringi kecapi suling alam bawah sadar, kita seakan dibawa tidak dalam imajinasi "Islam Arab padang pasir", tetapi justru ke lingkungan Pasundan yang rimbun dengan padang rumput dengan segala nuansa mistis-mitologisnya, dengan segala keramahannya.

Islam dan Sunda menjadi sebuah kearifan perenial tempat orang mencari kebahagiaan dan kesenangan setelah sebelumnya melakukan fase-fase tirakat :
- sirna ning cipta (hirup darma wawayangan/subhanallah).  
- sirna ning rasa (ngertakeun bumi lamba/alhamdulillahi rabbil alamin).
- sirna ning karsa (hirup dinuhun, paeh dirampes/bismillahirrahmanirrahim).
- sirna ning karya (muga bareng jeung parengna. Malati lingsir ku wanci, campaka ligar ku mangsa/insya Allah).
- sirna ning diri (henteu daya teu upaya/la haula wa la quwwata illa billahil adhim).
- sirna ning hurip (sapanjang maluruh batur kuring deui kuring deui sapanjang neangan kuring batur deui batur deui/assalamu alaikum wa rahmatullohi wa barakatuh). 
- sirna ning wujud (rengse pancen dipigawe, tutas tugas dipilampah/Q.S. 6: 162-163).
-  sirna ning dunya (mulih ka jati mulang ka asal/astagfirullahal adhim). 
- sirna ning pati (congo nyurup dina puhu, dalitna kuring jeung Kuring/ inna lillahi wa inna ilaihi rajiun).

Congo nyurup dina puhu/ mulih ka jati mulang ka asal/ sirnaning pati - Rawayan Jati
Pandangan Hidup Urang Sunda dalam menentukan visi dan misi keberadaannya di jagat raya ini. Berikut ini adalah bagan/ skema paradigmanya. Hal ini diharapkan akan memudahkan alur pikir Urang Sunda dalam menyiasati keberadaannya. Alur visi dan misi Hidup Urang Sunda ini disebut dengan istilah rawayan jati. Dalam hal ini Rawayan dapat diartikan sebagai sasak, jembatan, perjalanan, atau keturunan. Sedangkan Jati merupakan esensi sebagai suatu perjalanan atau proses kehidupan dalam meniti alur INALILLAHI WA INNA ILAIHIROJI’UUN.

Diagram ringkas RAWAYAN JATI  :

Yang menciptakan kita dan segalanya adalah Nu Ngersakeun - Sanghyang Tunggal dalam hal ini tercipta adanya kesadaran religi monoteismeu.

Tugas hidup kita di dunia adalah Ngertakeun Bumi Lamba yakni mensejahterakan alam dunia.

Dunia akan sejahtera apabila Tri Tangtu di Bumi atau Tiga Penentu Dunia berperan dengan baik, yang meliputi :
• Rama, memiliki makna keluarga yang berfungsi optimal sebagai fondasi keluarga/nucleus family yang sakinah, mawadah wa rohmah. 
• Resi, bermakna sebagai alim ulama/cerdik pandai. 
• Ratu diartikan sebagai tatanan birokrasi bagi para pemangku kehidupan sosial dan budaya bangsa.

Siapapun manusia di dunia ini dapat berfungsi sebagai Tri Tangtu di Bumi, dengan syarat harus memiliki kualifikasi sebagai berikut : 
- Luhung Elmuna, yakni memiliki ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan. 
- Pengkuh Agamana, yakni teguh dan konsekwen dalam melaksanakan kehidupan beragama yang dianutnya. 
- Jembar Budayana, luas wawasannya untuk dimanfaatkan dalam mengatasi permasalahan hidup.

Proses berinteraksi untuk mencapai Tri Tangtu di Bumi harus melalui proses:
• Silih Asih, merupakan proses silaturahmi.
• Silih Asah, dapat diartikan sebagai proses saling mencerdaskan. 
• Silih Asuh, yakni dapat menempatkan diri (positioning), proporsional dan professional. Ketiga SA ini pada akhirnya akan mewujudkan masyarakat yang menyadari bahwa hidup adalah adanya saling ketergantungan, keterikatan, dan kebersamaan interpendency; yaitu kehidupan sosial global yang toleran, egaliter dan equaliter.

Bila proses 3 SA telah terlaksana dengan baik, karakter manusia/ individu Urang Sunda yang diharapkan terwujud adalah yang sesuai dengan strata kualitas manusia menurut kaidah/ norma Urang Sunda. Hal ini akan terwujud berupa karakter Manusa Sunda yang 4 R, yakni:
•  CAGEUR, yang dapat diartikan sebagai sehat lahir batinnya, sehat fisik dan psikisnya, sehat jasmani dan rohaninya. Dalam hal ini kita akan mendengan sapaan Urang Sunda adalah "Kumaha damang?", bukan "Kumaha wartosna atau Apa kabar". 
• BAGEUR, dalam hal ini berarti hidupnya sesuai dengan hukum Agama, hukum darigama/hukum positif dan hukum nurani. Menyalahi salah satu dari ketiga hukum tersebut, akan dikatakan jelema henteu bageur. 
• BENER dapat diartikan jelas serta benar Visi dan Misi hidupnya, yaitu manusia yang hidupnya CAGEUR dan BAGEUR. 
• PINTER, dalam hal ini berarti mampu mengatasi masalah hidup serta mampu mewujudkan Visi dan Misi hidupnya.

Capaian akhir dari manusia bagi kesejahteraan Alam Dunia adalah apabila manusia Sunda telah berkarakter 4 R. Apapun fungsinya, di manapun berada dalam strata sosial apapun baik dia menjadi warga: Lokal, Regional, Nasional, Internasional akan selalu berfungsi sebagai Tri Tangtu di Bumi yang berkemampuan untuk Ngertakeun Bumi Lamba dan jadilah Ki Sunda yang Saampar Jagat yang Rakhmatan Lil Alamin.

Dengan kualitas Ki Sunda seperti di atas, Insya-Allah akan terwujudlah kehidupan masyarakat yang Madani dan Mardotillah. Alur pikir inilah yang disebut dengan Rawayan Jati yaitu kesadaran manusia akan keberadaannya secara holistik. Pengembangan dan aktualisasi dari 7 Jenjang Rawayan Jati ini sangat memungkinkan untuk diserap dalam kurikulum pendidikan formal maupun non formal serta dilaksanakan secara konsisten pada setiap pribadi serta institusi yang berada di Tatar Sunda.